Inilah 6 Gunung Berapi yang Dijadikan Sebagai Tempat Wisata di Malang

Kota Malang merupakan salah satu kota yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Timur, sekitar 90 km arah selatan kota Surabaya.

Malang juga merupakan salah satu kota paling menarik dan santai dengan iklimnya yang sangat sejuk, membuat siapa saja akan betah tinggal di sana. Selain itu, di Malang juga banyak sekali obyek wisata yang sayang untuk dilewatkan, salah satunya adalah beberapa tempat wisata gunung berapi berikut ini.

1. Gunung Bromo

Wisata gunung Bromo
fotowisata.com

Jangan bilang bahwa kamu pernah ke Jawa Timur jika belum pernah menjejakan kakimu di gunung berapi yang sangat indah ini. Gunung Bromo, begitulah orang-orang menyebutnya, sebuah gunung api aktif yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu adanya lautan pasir yang membentang seluas 5.250 hektar dan berada pada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.

Selain pesona keindahan gunung Bromo, di sini kita juga bisa menikmati kemegahan Semeru yang menjulang ke atas langit, serta menikmati indahnya matahari yang mulai beranjak keluar dari peraduannya ataupun menikmati temaram senja di balik punggung bukit Bromo. Sungguh suatu pengalaman yang tak mungkin bisa kita lupakan dengan begitu saja.

Selengkapnya baca di: Sensasi Wisata Gunung Bromo

2. Gunung Semeru

gunung semeru, mahameru
infopubliklumajang.blogspot.com

Bicara tentang gunung Semeru tentu tak lepas dari yang namanya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang meliputi area seluas 800 km persegi yang berada di wilayah Jawa Timur. Bagi para pecinta gunung berapi, berkunjung ke taman ini adalah suatu keharusan, karena kawasan ini merupakan kawasan gunung berapi terbesar di Jawa Timur.

Salah satunya adalah untuk menikmati keindahan kepulan asap yang keluar dari kawah Semeru. Gunung yang berada pada ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini merupakan gunung berapi aktif yang sayang untuk dilewatkan, khususnya bagi para pecinta alam.

Selengkapnya baca di: Pesona Wisata Gunung Semeru (Mahameru)

3. Gunung Kawi

Kawi Butak

Gunung Kawi merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Meskipun dikategorikan dalam gunung berapi, tetapi belum pernah ada catatan sejarah tentang letusan gunung berapi yang satu ini.

Sangat disayangkan jika kamu belum pernah berwisata ke sini. Bagaimana tidak, gunung Kawi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gunung berapi lain yang ada di Jawa Timur. Jika kamu datang ke sini, kamu akan menemukan suasana yang berbanding 180 derajat dengan namanya. Selain itu, kita juga akan merasa seperti sedang berada di negara orang dengan suasana beberapa ratus tahun yang lalu.

Selengkapnya baca di: Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

4. Gunung Butak

Jika berbicara soal gunung Kawi tentu tak lepas dari gunung Butak yang letaknya bersebelahan dengan gunung Kawi, ada juga yang mengatakan bahwa kedua gunung ini adalah gunung kembar (kembar tapi beda). Sama halnya dengan gunung Kawi (so pastilah, kan gunung kembar) meskipun dikategorikan dalam gunung berapi (stratovolcano), namun belum ada catatan sejarah tentang erupsi dari gunung Butak ini.

Selengkapnya baca di: Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

5. Gunung Arjuno

setapakkecil.com

Gunung Arjuno merupakan sebuah gunung berapi yang berada pada ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut dengan tipe Strato yang masuk dalam pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Gunung Arjuno adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Timur, serta tertinggi keempat di pulau Jawa.

Sangat disayangkan tentunya, jika kita tak mampir ke sini ketika sedang berada di Jawa Timur. Sepanjang perjalanan kita menuju ke puncak gunung Arjuno, kita akan dimanjakan dengan pesona keindahan alam yang tiada duanya. Kawasan hutan Dipterokarp Bukit, Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan Hutan Ericaceous juga siap menjamu kedatangan kita. Di sini juga terdapat beberapa wisata lain, diantaranya adalah Kota Wisata Batu dan Taman Safari Indonesia II.

Selengkapnya baca di: 4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

6. Gunung Welirang

Tak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke gunung Arjuno tapi malah melewatkan keindahan gunung yang satu ini. Orang-orang menyebutnya dengan gunung welirang (belerang) yang disebut-sebut sebagai kembaran dari gunung Arjuno dan letaknya pun juga bersebelahan dengan ketinggian yang hampir sama.

Selengkapnya baca di: 4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

Gunung Kawi merupakan salah satu gunung berapi yang terletak di kota Malang, lebih tepatnya di desa Wonosari, Malang, Jawa Timur. Gunung Kawi sendiri berada pada ketinggian 2.551 meter di atas permukaan laut. Gunung Kawi juga memiliki kembaran, yaitu gunung Butak yang berada pada ketinggian 2.868 meter dia atas permukaan laut dan letaknya juga bersebelahan sama halnya dengan gunung Arjuno dengan gunung Welirang.

Selain dijadikan sebagai wisata pendakian, gunung Kawi juga dijadikan sebagai wisata ziarah yang berbau “mistis”. Sepanjang perjalanan kita menuju puncak gunung Kawi, akan banyak kita temui situs-situs peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur Tiongkok yang berbentuk seperti kuil.

Tempat ini selalu ramai oleh para pengunjung, khususnya di akhir pekan, hari libur nasional serta di hari-hari tertentu yang dipercayai sebagai hari “mistis” seperti ketika malam Jum’at legi dan bulan Suro (kalender Jawa). Kawasan sekitar kaki gunung Kawi kini tidak lagi seperti kawasan wisata alam, melainkan sudah seperti kota yang ada di atas bukit. Dengan semakin menjamurnya hotel, losmen, penginapan, serta rumah makan yang berbaris mulai dari awal jalur pendakian hingga hampir mencapai puncak.

Rute perjalanan.

Untuk mencapai puncak gunung Kawi dan Butak ada beberapa rute perjalanan yang bisa kita gunakan, yaitu lewat jalur Bukit Panderman – Malang, jalur gunung Kawi Kepanjen, Jalur desa Gadingkulon – Dau – Malang dan juga jalur desa Semen – Gandungsari – Blitar.

Tetapi, rute yang paling sering digunakan oleh para pendaki adalah jalur pendakian dari desa Semen. Dari kota Malang kita bisa naik bus jurusan Blitar, kemudian turun di pasar Wlingi. Dari pasar Wlingi, kita akan melanjutkan perjalanan lagi menuju desa Semen, kemudian dilanjutkan lagi menuju ke PTPN XII Sirahkencong yang berjarak sekitar 11 Km dari desa Semen. Kita bisa menggunakan beberapa alternatif untuk menuju ke sana, yaitu dengan menumpang truk pengangkut teh, naik ojek ataupun menyewa pick-up untuk mengantar kita ke sana.

Sesampainya di PTPN XII Sirahkencong, kita harus lapor dulu dengan melampirkan surat izin dari Polsek Semen dan dari sinilah kita akan memulai pendakian.

Setelah keluar dari pos penjagaan PTPN XII Sirahkencong, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang sangat luas untuk menuju ke Wukir Negara (perbatasan perkebunan dengan hutan) yang bisa kita tempuh dengan sekitar satu jam perjalanan. Setelah sampai di Wukir Negara, kita akan masuk ke kawasan hutan Tropis dengan medan yang cukup berat (penuh tanjakan). Dari Wukir Negara menuju puncak gunung Kawi dan Butak masih sekitar 7-8 jam perjalanan lagi.

Ketika awal perjalanan dari pos yang ada di Wukir Negara akan kita temuai banyak persimpangan jalan, jadi sangat dianjurkan untuk bertanya kepada para petani sekitar yang kita temui ataupun menyewa orang untuk kita suruh sebagai potter. Dari Wukir Negara menuju ke pos bisa kita tempuh kurang lebih sekitar 90 menit dengan medan yang cukup landai. Pos 1 ini ditandai dengan hamparan lahan datar yang sangat luas dengan vegetasi berupa hutan basah yang rapat.

Dari pos 1 menuju ke pos 2 perjalanannya cukup melelahkan, karena medannya yang mulai menanjak dan hanya ada sedikit jalur landai yang bisa kita temui. Tetapi waktu yang kita butuhkan hampir sama dengan perjalanan dari Wukir Negara menuju pos 1, yaitu sekitar 90 menit karena jaraknya yg cukup dekat. Vegetasi dari pos 2 juga masih sama berupa hutan hujan tropis, namun sudah mulai terbuka (gundul).

Selanjutnya, perjalanan dari pos 2 menuju ke pos 3 juga bisa kita tempuh sekitar 90 menit. Di sini medannya lebih berat lagi, karena terus menanjak dan keadaan vegetasinya pun masih tetap sama dengan yang ada di pos 2, hanya saja lebih didominasi oleh pohon Cemara.

Dari pos 3 menuju ke pos 4 perjalanannya lebih melelahkan lagi, karena medannya yang lebih terjal dibandingkan dengan pos-pos sebelumnya. Vegetasi di pos 4 ini sedikit berbeda dengan pos-pos sebelumnya. Di sini suasananya lebih indah, karena banyak ditumbuhi oleh pohon Cemara dan juga bunga Edelweis. Tak jarang juga kita mendengar suara sahutan monyet serta kicauan burung yang semakin menambah semangat kita untuk segera sampai di puncaknya.

Kini tinggal satu pos lagi yang harus kita taklukkan, yaitu pos 5. Perjalanan dari pos 4 menuju ke pos 5 ini membutuhkan waktu yang sama dengan pos-pos sebelumnya. Vegetasi di pos 5 ini berupa hutan lumut dengan beberapa sisa bekas kebakaran hutan.

Dari pos 5, untuk mencapai puncak gunung Kawi dan Butak kita harus melanjutkan perjalanan lagi kurang lebih sekitar 20 menit, tentunya dengan medan yang semakin menanjak. Setelah melalui beberapa rintangan akhirnya kita sampai juga di puncak gunung Kawi dan gunung Butak, dari sini bisa kita lihat beberapa gugusan gunung lainnya, seperti gunung Semeru, Bromo dan lain sebagainya.

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Mintalah surat ijin pendakian di Polsek Wlingi, baru kemudian melapor ke pos pertama dengan menyertakan surat ijin dari Polsek Wlingi. Jangan lupa juga untuk membawa identitas diri seperti KTP, SIM dan lain sebagainya.

Jika kamu mengambil jalur yang ada di artikel ini, kamu harus menyiapkan air minum secukupnya. Karena sepanjang perjalanan yang akan kita lalui sulit untuk ditemui sumber mata air. Namun, jika mengambil jalur yang lain, kamu nggak perlu khawatir karena banyak yang menjajakan makanan dan minuman. Tapi, jika kamu adalah seorang pecinta alam sejati, maka kamu akan mengambil jalur yang ini.

Demikian, sedikit informasi mengenai wisata gunung Kawi dan gunung Butak dengan segala keindahan serta rintangan yang akan kita temui nantinya.

Pastikan bahwa informasi yang kamu dapatkan seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

Gunung Arjuno merupakan salah satu gunung berapi dengan tipe Strato yang berada pada ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut dan berada di bawah pengelolaan “Hutan Raya Raden Soerjo”. Gunung Arjuno adalah gunung tertinggi ke-2 di Jawa Timur setelah Semeru dan tertinggi ke-4 di pulau Jawa. Selain itu, letak dari gunung Arjuno juga bersebelahan dengan gunung Welirang dengan ketinggian yang hampir sama.

Sejak zaman Majapahit, gunung Arjuno sudah digunakan sebagai tempat untuk memuja, sehingga akan banyak kita temui sisa-sisa peninggalan pada zaman Majapahit dalam bentuk arca maupun reruntuhan Candi yang berserekan mulai dari kaki gunung hingga ke puncaknya.

Setidaknya ada empat jalur pendakian yang bisa kita lalui untuk mencapai puncak gunung Arjuno, yaitu lewat jalur Tretes, Lawang, Purwosari dan Batu.

Jalur Pendakian Tretes

Tretes sendiri merupakan salah satu tempat wisata (Hutan Wisata), dalam area wisata hutan Tretes juga terdapat sebuah air terjun yang sangat indah, yaitu air terjun Kakek Bodo. Di sini juga banyak penginapan yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan pendakian.

Pendakian dimulai dari pos PHPA Tretes, setelah sekitar 4-5 jam melakukan perjalanan ke arah Barat Daya, kita bisa beristirahat dulu di sebuah pondok di mana tempat warga sekitar mencari bijih Belerang. Di sini juga terdapat sumber mata air yang melimpah, jadi kita nggak perlu khawatir jika ingin mandi ataupun mencuci.

Setelah beranjak dari pondok tersebut kita akan melewati hutan Cemara yang medannya cukup terjal dan berbatu. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari pondok penambang Belerang untuk menuju ke puncak gunung Arjuno. Jika ditotal secara keseluruhan, perjalanan mulai dari Tretes hingga sampai ke puncak gunung Arjuno dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar 7-8 jam. Setelah sampai di puncak gunung Arjuno (puncak Ogal-Agil, puncak ringgit) kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah, kita bisa melihat beberapa kota dari atas puncak gunung Arjuno, seperti Malang, Batu, Pasuruan, Surabaya dan juga laut utara.

Jalur Pendakian Lawang

Jalur pendakian Lawang merupakan jalur pendakian yang cukup praktis, dikarenakan akses menuju kota Lawang yang sangat mudah baik itu dari dalam maupun dari luar kota Malang. Untuk kamu yang berasal dari luar kota bisa langsung naik bus jurusan Malang dan turun di Lawang, sedangkan yang berasal dari dalam kota bisa langsung naik kendaraan pribadi atau juga naik bus dari terminal Arjosari menuju Lawang. Dari kota Lawang kita masih harus menuju ke desa Wonorejo untuk memulai pendakian.

Sesampainya di desa Wonorejo kita akan berjalan menuju Perkebunan Teh Wonosari yang berjarak sekitar 3 Km dari desa Wonorejo. Di sini kita wajib lapor dan meminta izin pada petugas PHPA sekaligus mempersiapkan perbekalan kita, karena di sini (Wonosari) merupakan desa terakhir yang akan kita lewati, selanjutnya adalah hutan belantara. Setelah berjalan sekitar 3-4 jam kita akan sampai di oro-oro ombo, di sini kita bisa mendirikan tenda untuk beristirahat.

Dari oro-oro ombo, kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar 6-7 jam menuju puncak gunung Arjuno. Sepanjang perjalanan kita dari oro-oro ombo, kita juga akan melewati sebuah hutan yang bernama hutan Lali Jiwo dan juga padang rumput yang medannya sangat curam. Jika sudah mendekati puncak gunung Arjuno, kita akan melewati batu-batu terjal yang banyak ditumbuhi oleh tanaman indah.

Jalur Pendakian Purwosari

Jika kita ingin mendaki gunung Arjuno lewat jalur Purwosari dan kita datang dari arah Surabaya langsung saja turun di pasar Purwosari. Dari pasar Purwosari kita harus melanjutkan perjalanan lagi menuju desa Tambak Watu, ada beberapa alternatif yang bisa kita pakai. Yang pertama naik angkutan desa (warna kuning) dengan biaya sekitar Rp3000 atau bisa juga dengan naik ojek, kalau naik ojek biayanya relatif atau tergantung dari kesepakatan dengan si tukang ojek. Sesampainya di desa Tambak Watu, kita harus lapor dan minta izin pendakian di pos yang sudah disediakan (Rp2000/orang).

Awal pendakian kita bermula dari sini (desa Tambak Watu). Dari sini kita akan melewati hutan Pinus yang tertata sangat rapi dan di tengah-tengahnya banyak ditanami dengan pohon kopi dan juga pisang. Setelah berjalan kira-kira sekitar 1 jam perjalanan, kita akan sampai di sebuah gua yang bernama gua Antaboga yang berada di bawah tebing Batu menghadap ke arah Utara dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter den tinggi sekitar 1,25 meter. Di sini kita bisa beristirahat sejenak di sebuah pondokan yang sering digunakan oleh para wisatawan yang berkunjung ke gua Antaboga.

Dari gua Antaboga kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Petilasan Eyang Abiyasa yang bisa kita tempuh sekitar 1,5 jam. Dari petilasan Eyang Abiyasa, kira-kira sekitar 10 menit kita akan sampai di Situs Eyang Sakri. Setelah itu, kita akan melewati sebuah situs yang bernama situs Eyang Semar, namun tempat ini terkenal sangat angker, jadi tidak disarankan untuk beristirahat ataupun bermalam di sini meskipun ada beberapa pondok yang bisa ditempati untuk istirahat. Kemudian kita juga akan melewati Wahyu Makutarama dan juga puncak Sepiral.

Dari puncak Sepiral ini, jika kita berjalan menuju ke arah Kanan menyusuri bukit, kita akan sampai pada sebuah Candi yang bernama Candi Wesi. Di sini bisa kita jumpai beberapa peninggalan zaman Hindu-Budha dulu (Majapahit) salah satunya adalah tiga patung Pandawa yang dulunya ada lima, namun yang dua yitu patungnya Nakula dan Sadewa hilang dicuri. Dari sini, kita harus melanjutkan perjalanan lagi melewati sebuah Candi yang bernama Candi Manunggale. Dari Candi Manunggale kita masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 5 jam lagi untuk mencapai puncak gunung Arjuno.

Jalur Pendakian Batu

Jalur ini berada di sebelah Barat gunung Welirang, jalur yang satu ini bisa dikatakan sebagai jalur yang paling menarik sekaligus menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang kita melakukan perjalanan pendakian, kita akan dimanjakan dengan keindahan panorama alam yang mampu membuat pikiran kita menjadi tenang. Iklim kota Batu yang cukup dingin membuat kota ini menjadi salah satu kota penghasil buah-buahan terbesar di Indonesia.

Perjalanan pertama kita adalah menuju desa Sumber Brantas Lewar Selecta. Baru awal perjalanan saja kita akan dimanjakan dengan taman wisata Selecta yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Jika ingin beristirahat dulu di sini juga bisa, di sini banyak sekali losmen ataupun hotel yang bisa kita gunakan untuk menginap. Di desa ini juga terdapat sumber mata air yang berasal dari sungai Brantas yang juga masuk dalam kawasan perhutani Jawa Timur.

Dari desa Brantas kita akan berjalan menuju arah Pacet, Mojokerto, kurang lebih sejauh 8 Km. Dan sampailah kita di Cagar Alam yang masuk dalam kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo, di sini kita bisa menikmati sensasi mandi air hangat yang berada di bawah kaki gunung Welirang. Dari sini kita masih harus terus berjalan melewati hutan Tropis yang sangat lebat.

Setelah melakukan pendakian kurang lebih sekitar 4 jam (dari Taman Hutan Rakyat Suryo) kita akan sampai di sebuah bukit yang menghubungkan antara gunung Arjuno dan gunung Welirang. Tepatnya di sebelah Tenggara gunung Kembar 1, di sini ada persimpangan ke arah Kiri jika ingin menuju ke gunung Welirang (perjalanan sekitar 2-3 jam), sedangkan yang ke arah Kanan ialah menuju ke gunung Arjuno (perjalanan 4-5 jam). Sepanjang perjalanan kita menuju ke puncak gunung Welirang dan Arjuno, mata kita akan dimanjakan dengan keindahan hamparan padang Edelweis serta bisa kita jumpai berbagai macam hewan liar seperti Lutung, Kijang, Rusa dan Tupai.

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Pastikan kamu membawa semua perlengkapan yang akan kamu butuhkan untuk mendaki gunung, seperti Sapatu boots, Jaket tebal, masker, tali, tenda, persediaan makanan serta lain sebagainya. Jika kamu ingin perjalanan pendakian kamu semakin menarik ada beberapa opsi yang bisa kamu ambil. Yang pertama adalah lewat jalur Purwosari, di jalur ini banyak kita jumpai peninggalan sejarah zaman Majapahit dalam bentuk Candi dan Arca serta yang lainnya. Yang kedua adalah lewat jalur Batu dan Tretes, namun kita harus menyiapkan budget yang cukup tebal jika kita ingin melalui jalur ini, karena di jalur ini banyak sekali kawasan wisata yang mungkin akan menggoda kita untuk mengunjunginya. Yang ketiga adalah lewat jalur Lawang, jika kamu ingin perjalanan kamu lebih cepat.

Demikian sedikit informasi tentang jalur pendakian yang bisa kita gunakan untuk menuju ke puncak gunung Arjuno dan Welirang. Pastikan bahwa informasi yang kamu dapat seputar kota Malang berasal dari malang.kotamini.com.

Pesona Wisata Gunung Semeru (Mahameru)

Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, yaitu mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut tepat pada puncaknya. Jonggring Saloko, begitulah orang-orang menyebut kawah yang berada di puncak gunung Semeru.

Selain pesona keindahan kawah Semeru, di sana juga terdapat kawasan hutan Dipterokarp Atas, Dipterokarp Bukit, hutan Ericaceous (hutan gunung) serta hutan Montane.

Gunung Semeru sendiri terletak diantara dua wilayah administrasi kabupaten Lumajang dan Malang dengan letak geografis 8°06′ Lintang Selatan dan 120°55′ Bujur Timur.

Pada tahun 1913 dan 1946 kawah Jonggring Saloka mempunyai kubah yang ketinggiannya mencapai 3.744,8 meter sampai akhir November 1973. Namun, sisi selatan dari kubah tersebut mendorong tepi kawah dan mengakibatkan aliran lava yang kemudian mengarah ke selatan di sekitar daerah Pronowijo dan juga Candipuro Lumajang.

Ekspedisi ke puncak gunung Semeru.

Mendaki gunung Semeru, membutuhkan waktu kurang lebih sekitar empat hari untuk pulang-pergi. Ada dua pilihan rute perjalanan yang bisa kita ambil, yaitu lewat kota Lumajang atau Malang. Jika lewat Malang, sesampainya di terminal langsung saja naik angkutan umum menuju ke desa Tumpang. Jika sudah sampai di desa Tumpang langsung saja naik Jip ataupun Truk sayuran yang biasanya pada parkir di belakang pasar terminal Tumpang. Biayanya cukup murah, hanya dengan Rp20.000 kita akan diantar sampai ke pos Ranu Pane.

Sebelum melakukan pendakian, kita harus mampir dulu ke Gubugklakah untuk mengurus ijin dengan biaya sekitar Rp6000 saja (maksimal untuk 10 orang), karcis masuk Rp2000/orang, serta asuransi Rp2000/orang.

Jalur pendakian dimulai dari desa Tumpang, kemudian menuju ke Ranu Pane yang merupakan desa terakhir di bawah kaki gunung Semeru. Di sini bisa kita jumpai pos pemeriksaan, warung serta pondok penginapan. Jika kita membawa tenda, kita akan dikenakan biaya nitip sekitar Rp20.000/tenda, kamera Rp5000/kamera. Selain itu, kita juga bisa menyewa porter (warga lokal yang akan membantu kita menunjukkan arah, mengangkat barang dan juga masak). Di pos ini kita juga akan dimanjakan dengan keindahan danau Ranu Pane dan Ranu Regulo yang berada pada ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut.

Jika sudah sampai di gapura “SELAMAT DATANG”, perhatikan terus jalur menuju bukit yang ada di sebelah kiri, jangan lewat jalan lebar yang menuju ke arah kebun penduduk. Selain jalur sebelah kiri (yang sering dilewati para pendaki) ada juga jalan pintas yang sering digunakan para pendaki lokal, namun jalur ini sangat curam.

Jalur pendakian ini cukup landai, menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi alang-alang. Di sini kita tidak akan pernah bisa menemukan yang namanya penunjuk arah, tapi bisa kita temui tanda ukuran jarak setiap 100 meter.

Setelah berjalan menyusuri bukit kira-kira sekitar 5 km, kita akan sampai di Watu Rejeng. Di sini bisa kita temui batu terjal yang sangat indah. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan keindahan lembah dan bukit-bukit yang banyak ditumbuhi pohon Cemara dan Pinus. Terkadang kita juga bisa melihat kepulan asap yang bersal dari puncak gunung Semeru. Dari sini masih sekitar 4,5 Km lagi untuk sampai di Ranu Kumbolo.

Sesampainya di danau Ranu Kumbolo kita bisa beristirahat sambil menikmati keindahan danau yang memiliki luas sekitar 14 hektar dan berada pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut tersebut.

Jika sudah puas menikmati keindahan Ranu Kumbolo dan ingin segera untuk melanjutkan perjalanan, sebaiknya kita siapkan air sebanyak mungkin. Sepanjang perjalanan dari Ranu Kumbolo, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Di sana kita akan menjumpai padang rumput yang sangat luas (warga sekitar menyebutnya dengan ORO-ORO OMBO). Sekeliling oro-oro ombo tersebut berupa jajaran gunung dan bukit yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Dari balik salah satu gunung yang bernama gunung Kepolo dapat kita lihat puncak Semeru yang penuh dengan asap.

Tak lama kemudian kita akan memasuki area hutan Cemara (Cemoro Kandang), yang terkadang bisa kita jumpai beragam burung dan Kijang. Di sini akan kita jumpai sebuah pos (pos Kalimati) yang berada pada ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Jika ingin mandi atau mengambil air, kita harus berjalan menuju arah Barat (kanan) menyusuri hutan Kalimati sekitar 1 jam perjalanan (pulang-pergi) menuju mata air Sumber Mani.

Dari sini (pos Kalimati) kita bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Arcopodo sekitar 500 meter ke arah Timur (kiri), kemudian belok ke Selatan (kanan) menuruni padang rumput Kalimati. Perjalanan dari Kalimati menuju Arcopodo bisa ditempuh sekitar satu jam dengan melewati hutan Cemara yang sangat curam dan tekstur tanah yang mudah longsor serta berdebu. Jadi sangat disarankan untuk memakai masker dan kacamata. Arcopodo sendiri berada pada ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut, dan merupakan wilayah vegetasi terakhir di sekitar gunung Semeru, selanjutnya kita akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo, untuk mencapai puncak Semeru membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan melewati bukit-bukit pasir yang sangat curam dan mudah longsor. Sebagai panduan, di jaur tersebut akan kita temui beberapa bendera segitiga berwarna merah (peringatan bahaya longsor). Oleh sebab itu, kita sangat dianjurkan untuk menitipkan barang-barang yang kita bawa di pos Kalimati ataupun Arcopodo. Sebaiknya, perjalanan dari Arcopodo kita mulai sekitar jam 02 dini hari dengan tujuan agar kita bisa menikmati sunrise di atas puncak gunung Semeru (Mahameru).

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Pastikan kita membawa bekal yang cukup dan lengkap (sesuai dengan yang dibutuhkan). Kemudian, jangan melakukan pendakian ke puncak gunung Semeru pada siang hari, karena pada siang hari angin akan bertiup ke arah menuju puncak gunung dengan membawa gas beracun yang berasal dari Kawah Jonggring Saloka. Pendakian sebaiknya kita lakukan saat musim kemarau (Juni-September) dan jangan pernah melakukan pendakian ketika musim hujan, karena sering terjadi tanah longsor dan juga badai.

Semoga informasi ini bisa membantu kamu dalam mempersiapkan diri dalam melakukan persiapan pendakian. Pastikan bahwa informasi yang kamu dapat seputar kota Malang, kamu dapatkan dari malang.kotamini.com.

Sensasi Wisata Gunung Bromo

Gunung Bromo memang sangat terkenal di kalangan para pendaki gunung, baik lokal maupun dari mancanegara. Selain itu, gunung Bromo juga dikenal dengan sunrise-nya (matahari terbit) yang sangat indah serta keindahan hamparan lautan pasir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kaldera.

Selain untuk menikmati keindahan sunrise dari atas puncak pananjakan 1 Bromo serta keindahan asap belerang putih yang keluar dari dalam kawah gunung Bromo. Kita juga bisa menikmati objek wisata lainnya, seperti Padang Savana Bromo, Air Terjun Madakaripura, Bukit Teletubbies, Upacara Kasada dan masih banyak lagi yang lainnya.

Lokasi dari gunung Bromo sendiri berada di empat kabupaten yang ada di pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Yaitu, terletak di antara Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan dan Lumajang.

Karena lokasinya yang sangat strategis, yaitu terletak di antara empat kabupaten kota. Sehingga membuat gunung Bromo sangat mudah untuk diakses menggunakan transportasi yang banyak disewakan oleh warga sekitar gunung Bromo, khususnya yang dekat dengan jalur pendakian.

Berikut ada beberapa jalur yang bisa kita gunakan untuk menuju ke kawah gunung Bromo.

Jalur pendakian yang ada di kabupaten Probolinggo.

1. Tongas – Lumbang – Sukapura – Ngadisari – Cemoro Lawang – Gunung Bromo

2. Ketapang – Patalan – Sukapura -Ngadisari – Cemoro Lawang – Gunung Bromo

Jalur pendakian yang ada di kabupaten Malang.

1. Tumpang – Gubuk Klakah – Jemplang – Pananjakan – Gunung Bromo

Jalur pendakian yang ada di kabupaten Pasuruan

1. Wonorejo – Warungdowo – Tosari – Wonokitri – Pananjakan – Gunung Bromo

Jalur Pendakian yang ada di kabupaten Lumajang.

1. Senduro – Bumo – Ranu Pane – Gunung Bromo

Agar perjalanan wisata kita semakin mengesankan, datanglah saat bulan Kasada/ke-sepuluh (antara bulan September-November) untuk menyaksikan festival Kasada tahunan (upacara kasada) di mana suku Tengger datang ke kawah gunung Bromo untuk melemparkan sesajen yang terdiri dari ayam, sayuran dan uang sebagai penghormatan kepada dewa yang mereka percayai.

Jika kamu termasuk orang yang hobi berkuda atau hanya sekedar ingin menikmati sensasi berkuda. Sepertinya, berwisata ke gunung Bromo memang pilihan yang sangat tepat. Bagaimana tidak, kita bisa berkuda di atas hamparan lautan pasir seluas 5.250 hektar yang berada pada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut dan uniknya lagi, hal ini hanya bisa kita jumpai dan kita nikmati ketika di Bromo, bukan yang lain.

Sepanjang perjalanan pendakian, kita juga bisa melakukan detour untuk menikmati keindahan beberapa danau dingin yang selalu berkabut, yaitu danau Ranu Pane, Ranu Kumbolo dan Ranu Regulo. Hal tersebut akan semakin menambah kepuasan kita ketika sedang berlibur ke gunung Bromo.

Tips sebelum melakukan pendakian.

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Sebelum melakukan pendakian ke gunung Bromo, ada beberapa hal yang harus kamu siapkan terlebih dahulu. Diantaranya adalah obor, sepatu trekking yang nyaman, baju hangat (jaket tebal) dan juga sarung tangan untuk mengantisipasi suhu yang sangat dingin, yaitu antara nol sampai lima derajat Celsius (33-41 derajat Fahrenheit). Dan satu lagi, jika kamu ingin menyewa atau membeli sesuatu jangan sungkan/malu untuk menawarnya terebih dahulu.

Saat berada di Bromo, matahari terbit antara pukul 5:00-6:00 pagi (jika tidak mendung). Jadi, kamu harus bergegas dari penginapan atau hotel sekitar pukul 03:00 dini hari. Waktu terbaik untuk menikmati matahari terbit (sunrise) adalah saat musim panas, yaitu antara bulan April-Oktober. Jangan lupa juga, sebelum melakukan pendakian pastikan bahwa kamu sudah makan atau bisa juga membawa bekal makanan.

Demikian sedikit informasi yang bisa saya sampaikan mengenai wisata gunung Bromo. Semoga informasi ini bisa bermanfaat sekaligus menambah wawasan untuk kita semua.

Pastikan informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.