Coban Pelangi, Secuwil Keindahan Daerah Konservasi

Berwisata ke alam terbuka tentu akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik di sela-sela kesibukan sehari-hari. Selain berkunjung ke taman atau pantai, berkunjung ke wisata air terjun juga bisa menjadi salah satu destinasi yang sangat tepat untuk kita masukkan ke dalam daftar tujuan liburan kita bersama keluarga. Ngomong-ngomong soal tujuan wisata, saya rasa Kota Malang merupakan salah satu yang paling recomended untuk dikunjungi. Bagaimana tidak, di Kota Malang banyak terdapat tempat liburan dengan nuansa alam yang masih alami, seperti halnya wisata air terjun dan salah satunya adalah air terjun Coban Pelangi.

Coban Pelangi ini terletak di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tepatnya sekitar 2 kilometer dari Desa Gubugklakah atau kurang lebih 32 kilometer sebelah timur Kota Malang. Yang secara administratif masuk dalam daerah konservasi Perum Perhutani KPH Malang yang dikelilingi dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) dan berada pada ketinggian 1299,5 meter di atas permukaan laut, tepatnya di bawah kaki Gunung Semeru dengan suhu berkisar antara 19-23 derajat Celcius.

Akses menuju Coban Pelangi.

Jika kita ingin berkunjung ke tempat ini, sangat disarankan untuk datang di sana waktu pagi hari. Karena, saat pagi hari kita bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dengan kabut lembut yag sayang untuk dilewatkan. Dan perlu diingat juga, ketika musim penghujan wana wisata air terjun Coban Pelangi ini hanya dibuka sampai jam 16:00 saja (pukul 4 sore). Hal ini dikarenakan untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi ketika ada air bah yang datang dari hulu pegunungan.

Suasana sekitar Coban Pelangi ini bisa dikatakan sangat sejuk. Dengan suhu udara yang sangat dingin ditambah lagi dengan suara guyuran air yang jatuh dari atas tebing dengan ketinggian kurang lebih sekitar 110 meter akan membuat pikiran kita menjadi fresh. Selain itu, kita juga akan disuguhi dengan kilauan bias warna pelangi yang timbul dari percikan air yang terkena bias sinar matahari. Karena itulah air terjun ini dinamakan Coban Pelangi (Air Terjun pelangi).

Akses jalan menuju Coban Pelangi juga sudah baik dan beraspal dengan tipikal jalan yang terus menanjak. Apalagi setelah memasuki Desa Gubugklakah, jalanan malah semakin menanjak dan ditambah lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok dan sempit. Jadi, kita harus ekstra hati-hati apalagi dan jangan ngebut, karena ruas jalan di sini hanya cukup untuk dilewati 1 kendaraan roda empat dan 1 kendaraan roda dua saja. Terlaepas dari semua itu, sepanjang perjalanan kita menuju ke Coban Pelangi, kita akan dimanjakan dengan panorama alam yang sangat indah sekali (Subhanallah).

Area wisata Coban Pelangi.

surabaya.panduanwisata.id
surabaya.panduanwisata.id

Setelah sampai di pintu masuk wana wisata Coban Pelangi kita bisa memarkir kendaraan kita dan melanjutkannya dengan berjalan kaki, kurang lebih sekitar 1 km dengan kondisi jalanan terjal menurun. Sebelumnya, untuk bisa masuk kita harus membeli tiket dulu, dengan harga sekitar Rp10.000/orang. Walaupun kita harus berjalan cukup jauh dan pastinya juga dibutuhkan stamina yang prima. Namun, semua itu akan terbayar tuntas dengan pemandangan yang akan kita lihat disepanjang perjalanan, (subhanallah) sangat indah sekali. Selain itu, disepanjang jalan juga banyak kita temui tempat peristirahatan serta warung-warung yang menyediakan aneka macam makanan dan minuman.

Sekitar separuh perjalanan yang kita lewati, akan banyak kita temui area camping yang berada di sisi kanan jalan, namun lokasi camping tersebut tidak terlalu luas dan hanya bisa menampung beberapa tenda saja. Jika tujuan kita datang ke sini untuk ber-camping, kita akan dikenakan tiket masuk yang berbeda dari pengunjung biasanya dengan tambahan fasilitas kamar mandi dan toilet, selebihnya hanya area camping saja.

Masih disekitar area camping, kita akan mendapati pangkalan kuda (Nunggang Jaran = Naik Kuda). Nunggang jaran merupakan fasilitas yang bisa kita gunakan sebagai alternatif untuk mencapai pintu masuk (ketika perjalanan pulang). Kuda tersebut memang khusus disediakan untuk melayani para pengunjung yang ingin merasakan sensasi berkuda atau karena sudah kelelahan setelah melakukan perjalanan yang menguras tenaga. Untuk bisa menggunakan fasilitas nunggang jaran, kita harus membayar sekitar Rp10.000 saja.

Setelah kita melewati area camping, kita akan dihadapkan dengan medan menurun yang lumayan curam dan berakhir pada sebuah jembatan bambu. Jembatan bambu ini dikenal dengan nama jembatan cinta, entah kenapa jembatan ini dinamakan demikian. Tapi menurut informasi yang saya peroleh, hal tersebut dikarenakan banyaknya muda-mudi yang bergandengan tangan ketika menyeberangi jembatan ini. Wajar saja, karena jembatan ini hanya bisa dilewati dua orang saja. Tak jarang juga jembatan ini dijadikan sebagai spot foto favorit para pengunjung. Hal tersebut dikarenakan bentuknya yang unik dan klasik, ditambah lagi dengan namanya yang cukup menggelitik.

Selepas dari jembatan cinta, sudah bisa kita dengar sayup-sayup gemuruh air terjun. Hal tersebut menandakan bahwa kita sudah semakin dengan air terjun Coban Pelangi, kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja dari jembatan cinta, kita akan sampai ke tempat tujuan.

Tak terasa langkah kaki akan semakin cepat, tak sabar ingin segera menyaksikan keindahan Coban Pelangi yang sangat fenomenal tersebut. Hanya perlu melewati sedikit jalanan yang menanjak, sudah bisa kita lihat air tejun Coban Pelangi nan eksotis tersebut. Ketika sudah mendekati air terjun kita harus berhati-hati, karena kita akan melewati bebatuan yang licin serta adanya beberapa titik longsor yang setiap saat bisa mengancam keselamatan, terutama ketika musim penghujan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata air terjun Coban Pelangi, semoga informasi ini bisa bermanfaat. Pasatikan bahwa, semua informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Mitos dan Pesona Coban Rondo yang Tak Terpisahkan

Coban Rondo merupakan salah satu wisata air terjun yang berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang secara administratif masuk dalam wilayah KPH Perhutani Malang Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon serta Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.

Air terjun Coban Rondo ini berada pada ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut dan mempunyai ketinggian kurang lebih sekitar 84 meter. Ketika musim hujan debit airnya bisa mencapai 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau mencapai 90 liter/detik yang berasal dari Cemoro Dudo dan lereng Gunung Kawi. Di kawasan ini rata-rata memiliki curah hujan sekitar 1.721 mm/th pada bulan basah (November-Maret) serta bulan kering (April-Oktober) dengan rata-rata suhu sekitar 22 derajat celcius.

Uniknya air tersebut ternyata tidak mengalir langsung dari Cemoro Dudo dan Lereng Gunung Kawi ke Coban Rondo, melainkan melewati dua air terjun kembar terlebih dahulu. Air terjun tersebut adalah air terjun Coban Manten yang menjadi satu dengan air terjun Coban Dudo. Dari Coban Dudo baru kemudian ke Coban Rondo yang kita kenal saat ini. Jika kita ingin melihat air terjun Coban Manten yang berada di Kepundan kita membutuhkan ekstra tenaga serta ekstra hati-hati, karena jaraknya yang lumayan jauh, yaitu sekitar 3-4 km dengan medan yang cukup licin.

Kisah dibalik keindahan Coban Rondo.

yudasmoro.net
yudasmoro.net

Selain beberapa hal di atas. Ternyata, Coban Rondo juga memiliki legenda yang sangat unik, yang dikisahkan di mana ada sepasang pengantin yang baru melaksanakan pernikahan. Pengantin wanitanya bernama Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, sedangkan pengantin prianya bernama Raden Baron Kusumo yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Singkat cerita, usia pernikahan mereka sudah menginjak 36 hari (selapan dalam istilah orang Jawa) sang istri (Dewi Anjarwati) mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro yang merupakan tempat asal dari Raden Baron Kusumo (sang suami). Tetapi, hal tersebut dilarang oleh kedua orang tua Dewi Anjarwati, mengingat usia pernikahan mereka yang baru 36 hari (Menurut kepercayaan orang Jawa, pengantin baru tidak boleh keluar selama masih dalam usia selapan).

Namun, keduanya tidak mempedulikan hal tersebut dan tetap bersikeras untuk melanjutkan niatnya dengan segala resiko yang akan terjadi nanti. Singkat cerita, ketika di tengah perjalanan mereka menuju ke Gunung Anjasmoro, mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak diketahui asal-usulnya. Dalam kisah tersebut dikatakan bahwa Joko Lelono jatuh cinta kepada Dewi Anjarwati dan berusaha untuk merebutnya dari tangan Raden Baron Kusumo. Namun, Raden Baron Kusumo tidak terima begitu saja. Akhirnya, perkelahian diantara keduanya tidak terelakan lagi. Raden Baron Kusumo berpesan kepada para prajuritnya untuk membawa istrinya ke suatu tempat yang ada air terjunnya (Coban). Perkelahian antara keduanya pun berlangsung sangat sengit dan menyebabkan mereka berdua meninggal. Sejak saat itu Dewi Anjarwati menjadi janda (rondo), sehingga air terjun di mana tempat Dewi Anjarwati bersembunyi dinamakan dengan Coban Rondo (air terjun janda). Konon katanya, di bawah air terjun tersebut terdapat sebuah gua yang menjadi tempat persembunyian Dewi Anjarwati serta batu besar yang ada di bawah terjun dipercaya sebagai tempat duduk Dewi Anjarwati ketika sedang merenungi nasibnya.

Terlepas dari legenda Coban Rondo yang memilukan tidak membuat pesona keindahannya menjadi turun pamor, melainkan semakin rame dikunjungi oleh para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara. Keindahan alam yang ada disekitar Coban Rondo memang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setingan latar sebuah film ataupun pembuatan video klip serta sebagai obyek fotografi.

Jalur menuju Coban Rondo.

Selain itu, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari pusat kota. Kira-kra hanya sekitar 12 km dari Kota Batu atau kurang lebih 24 km dari Kota Malang yang bisa dotempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Akses untuk menuju ke sana juga sangat mudah serta didukung dengan jalanan yang sudah beraspal. Jika kamu datang dari jalan raya arah Batu – Pujon, Malang, setelah melewati tanjakan yang cukup landai dengan jalan yang berkelok-kelok, maka kamu sudah dekat dengan area puncak perbukitan tempat wisata Coban Rondo. Di sana akan kamu temui sebuah papan nama berukuran besar yang akan memberikan petunjuk ke arah wana wisata Coban Rondo (belok kiri keluar dari jalan raya).

Setelah itu kita akan menemui sebuah patung sapi, dari situ kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi, kurang lebih sekitar 4 km. Di dua kilometer sebelum kita masuk ke kawasan, kita akan menjumpai sebuah papan nama yang bertuliskan “Welcome to Wana Wisata Coban Rondo”. Di sini kita akan memasuki area hutan dengan jalanan menurun dan pastinya dengan udara yang sangat sejuk. Di sekitar hutan akan banyak kita lihat gubug-gubug para pedagang serta kendaraan yang berjejer. Setelah itu, kita akan melewati sebuah tanjakan dan kurang dari dua menit kita akan sampai di tempat tujuan.

Jika kamu menggunakan angkutan umum, kamu bisa naik bis jurusan Surabaya – Malang, setelah sampai di terminal Arjosari, naiklah bemo jurusan Landungsari. Kemudian lanjutkan lagi dengan naik bis jurusan Kediri via Pujon (yang lewat Pujon) dan turun di patung sapi, yang merupakan pintu gerbang menuju Coban Rondo. Dari patung sapi banyak tukang ojek yang siap untuk mengantar kamu ke tempat tujuan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata Coban Rondo dan semoga liburanmu menyenangkan. Pastikan bahwa informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.