Fakta Menarik Tentang Candi Kidal

Selain banyak terdapat wisata alam, Malang juga mempunyai destinasi wisata budaya dan sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Banyak sekali situs peninggalan sejarah yang bisa kita temui di Kota Apel ini, dan salah satunya adalah Candi Kidal.

Mungkin nama itu cukup asing di telinga kita! Ya wajar saja, karena hanya ada beberapa orang saja yang mengenal Candi Kidal ini yang berbanding hampir 180 derajat dengan Candi Singosari yang sudah sangat terkenal kemana-mana. Padahal Candi Kidal ini tidak kalah menarik dan bisa kita jadikan sebagai pilihan tujuan wisata yang sangat menyenangkan, khususnya buat kamu yang suka dengan wisata sejarah dan budaya.

Lokasi Candi Kidal.

Candi Kidal ini berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau kurang lebih sekitar 20 kilometer ke arah Timur dari Kota Malang. Konon katanya, situs ini dibangun ketika masa peralihan kekuasaan Kerajaan Airlangga ke Kerajaan Kediri (Pertengahan Abad ke-12). Dan ternyata, Candi ini merupakan Candi pemujaan tertua di Jawa Timur.

Candi Kidal ini dibangun sekitar tahun 1248 Masehi, setelah diadakannya upacara pemakaman “Cradha” untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singosari. Tujuan dari dibangunnya Candi ini adalah untuk mendarmakan Raja Anusapati, supaya sang raja mendapatkan kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Sealin itu, ada hal menarik lain mengenai Candi Kidal ini, yaitu adanya relief kisah Garuda yang dipahat dengan sangat lengkap dibandingkan dengan Candi-candi lain yang ada di Jawa.

Kisah Candi Kidal.

Relief kisah Garuda yang terukir di situs bersejarah ini merupakan hasil duplikasi yang terdapat pada serat Jawa Kuno tentang Garudheya. Masyarakat Jawa Kuno, terutama yang terpengaruh oleh Hinduisme percaya dan meyakini cerita ini. Mitos Garudheya menceritakan tentang kisah perjuangan seekor burung Garuda yang berhasil menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang ditebusnya dengan air suci amerta (air kehidupan).

Konon katanya, relief Garudheya tersebut dibuat atas dasar amanat dari Raja Anusapati yang ingin meruwat ibunya (Ken Dedes) yang sangat dia sayangi. Relief mitos Garudheya ini dibuat dengan sangat lengkap diseputar kaki Candi. Jika kamu berminat untuk bisa membaca relief tersebut, kamu harus menguasai teknik Prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam) yang bermula dari sisi bagian Selatan.

Pada relief yang pertama menggambarkan tentang seekor burung Garuda yang sedang menggendong 3 ular besar, relief kedua menggambarkan seekor burung Garuda yang membawa kendi di atas kepalanya, sedangkan pada relief yang ketiga menggambarkan seekor burung Garuda yang mengggendong seorang wanita. Dari ketiga relief tersebut, hanya relief kedua yang kelihatan masih utuh dan paling bagus dibandingkan dengan dua relief lainnya.

Nama dari Candi Kidal ini sendiri ternyata diambil dari keunikan reliefya, yang di mana berbeda dengan Candi-candi lainya yang biasanya menulis relief searah dengan jarum jam. Namun, tidak dengan Candi Kidal ini, justru reliefnya dibuat berlawanan dengan arah jarum jam. Oleh karena itu, Candi ini dinamakan dengan Candi Kidal, yang di mana kidal itu berarti kiri.

Secara keseluruhan bangunan Candi ini terbuat dari batu Andesit dengan dimensi geometris vertikal. Badan dari Candi ini berdiri pada batur (kaki Candi) setinggi kurang lebih 2 meter. Untuk menuju ke selasar di lantai kaki Candi, ada sebuah tangga batu yang tepat berada di depan pintu. Uniknya, tangga tersebut dibuat dengan tipis sehingga dari kejauhan tidak nampak seperti tangga masuk. Selain itu, tangga batu ini juga tidak dilengkapi dengan pipi tangga yang berbentuk ukel seperti yang terdapat pada Candi-candi lain. Akan tetapi, di kanan dan kiri anak tangga yang pertama terdapat Badug (tembok rendah) yang berbentuk siku dan menutupi samping serta sebagian sesi depan kaki tangga yang tidak bisa kita jumpai pada Candi-candi lain.

Pintu dari Candi Kidal ini menghadap ke arah Barat dan dilengkapi dengan bilik penampil yang dihiasi dengan Kalamakara (Kepala Kala) di atas ambangnya. Hiasan Kalamakara tersebut nampak sangat menyeramkan dengan mata yang melotot, mulut terbuka, serta terdapat dua taring besar dan bengkok yang memberikan kesan dominan. Ditambah lagi, pada sudut kanan dan kiri terdapat jari tangan yang mudra (sikap) mengancam yang membuat patung ini semakin sempurna seramnya. Di kanan dan kiri pintu masuk juga terdapat relung kecil untuk meletakkan arca yang lengkap dengan bentuk “atap” di atasnya, di atas ambang dari relung-relung tersebut juga bisa kita jumpai Kalamakara.

Keunikan lain dari Candi yang mempunyai luas sekitar 35 meter persegi ini terdapat pada atapnya. Atap dari Candi Kidal ini berbentuk kotak yang bersusun tiga (makin ke atas makin mengecil). Selain itu, puncaknya juga tumpul atau berbentuk persegi datar yang cukup luas dan tidak didapati Stupa di sana. Konon katanya, pada zaman dulu pada setiap sudut lapisan atap Candi dipasangi dengan berlian kecil.

Pada bagian dinding dan sekeliling kaki Candi juga terdapat pahatan yang bermotif Medalion berjajar yang diselingi dengan motif bunga dan sulur-suluran. Di bagian kanan dan kiri pangkal tangga dan juga setiap sudut yang menonjol keluar akan kita dapati patung binatang yang mirip dengan Singa duduk. Patung-patung tersebut terlihat sedang menyangga pelipit atas kaki Candi yang menonjol keluar dari selasar. Jika kita menelusuri setiap relief yang ada pada Candi ini dengan seksama, akan terlihat betapa megah dan indahnya salah satu Candi peninggalan Kerajaan Singosari ini.

Akses menuju Candi Kidal.

safrinadewi.wordpress.com
safrinadewi.wordpress.com

Oh ya, sampai lupa! Jika kamu ingin berkunjung ke wisata sejarah Candi Kidal ini, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua atau empat serta angkutan umum juga. Kamu hanya perlu menuju ke arah Tumpang dan ikuti petunjuk jalan yang ada. Jika kamu ingin menggunakan angkutan umum, kamu harus men-carter dulu angkutan tersebut, agar bersedia untuk mengantarkan kamu sampai ke tempat tujuan. Wisata sejarah Candi Kidal ini mulai buka pukul 07:00-17:00 (WIB), sedangkan untuk tiket masuknya sendiri pihak pengelola belum menerapkan tarif yang pasti dan sebatas sukarela dari pengnjung.

Demikian sedikit informasi mengenai wisata sejarah Candi Kidal, dan semoga bisa bermanfaat. Pastikan bahawa informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Menilik Kemegahan Candi Singosari

Jika kamu termasuk seseorang yang pecinta akan budaya dan sejarah, tentulah tahu salah satu kerajaan yang paling tersohor di Jawa Timur? Ya benar, kerajaan Singhasari, atau yang sering ditulis dengan Singasari/Singosari. Dinasti Singosari sendiri merupakan keturunan dari Ken Dedes dengan dua suaminya, yaitu Ken Arok dan Tunggul Ametung. Sejarah dari kerajaan ini melahirkan sebuah legenda tentang keris Mpu Gandring yang terkenal, khususnya oleh masyarakat Jawa Timur.

Selain itu, kerajaan yang pernah berjaya pada zamannya ini tidak hanya meninggalkan cerita dan nilai-nilai sejarah semata, tetapi juga meninggalkan bekas bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri sampai saat ini. Peninggalan tersebut adalah Candi Singosari.

Apa itu Candi Singosari?

Candi Singosari (Singhasari) merupakan salah satu Candi bersejarah yang ada di Desa Candirenggo, Singosari, sekitar 10 km dari pusat Kota Malang yang terletak di antara Gunung Arjuno dan Pegunungan Tengger dan berada pada ketinggian 512 meter di atas permukaan laut.

Komplek percandian ini menempati area kurang lebih sekitar 200×400 meter yang terdiri dari beberapa macam Candi. Candi ini merupakan Candi peninggalan dari kerajaan Singosari (Singhasari) yang bergaya Hindu-Budha yang ditemukan sekitar abad ke-18 atau 1800-1850 Masehi. Para ahli Purbakala memperkirakan Candi Singosari ini dibangun sekitar abad ke-13 sebagai sebuah simbol penghormatan kepada Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari.

Di mana bangunan dari Candi Singosari ini berada di tengah halaman dan berdiri pada sebuah batur kaki dengan tinggi sekitar 1,5 meter yang tidak ada hiasan/relief. Tangga naik menuju ke selasar di kaki Candi juga tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan Makara seperti yang ada pada Candi-candi lainnya. Pintu masuk untuk menuju ke tengah ruangan berada di tengah Candi yang menghadap ke Selatan, terletak di sisi depan bilik penampil (bilik kecil menjorok ke depan). Pintu masuk ini juga nampak sangat sederhana tanpa hiasan/relief. Selain itu, di atas ambang pintu juga terdapat pahatan kepala Kala yang sangat sederhana juga pahatannya.

Pada bagian Kanan dan Kiri bilik pintu, terdapat sebuah relung untuk menempatkan Arca tanpa bingkai dan juga kepala Kala. relung yang serupa juga ada pada ketiga sisi yang lainnya, tetapi dengan ukuran yang lebih besar yang lengkap dengan hiasan kepala Kala di atas ambang.

Candi Singosari ini bisa dikatakan sangat unik. Bagaimana tidak, jika dilihat sepintas bangunannya terlihat sepeti dua bersusun dua, karena bagian bawah dari atap Candi yang berbentuk persegi dan terlihat seperti ruangan kecil dengan relung yang ada di masing-masing sisinya. Kelihatanya relung-relung tersebut dulu berisi Arca, tetapi sekarang sudah dalam keadaan kosong. Pada setiap ambang relung didapati hiasan kepala Kala dengan pahatan yang cukup rumit. Bentuk atapnya bersusun seperti Pagoda, tetapi sebagian puncak atap tersebut sudah runtuh.

Situs bersejarah ini dulunya pernah dipugar, tepatnya pada masa pemerintahan Belanda atau sekitar tahun 1930-an. Tetapi pemugaran tersebut belum bisa menyeluruh, hal tersebut nampak di sekeliling halaman Candi yang masih banyak berjajar tumpukan batu yang belem sempat dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Di sini juga ada beberapa Arca yang sebagian besar sudah dalam kondisi rusak atau yang belum selesai dibuat, diantaranya ada Arca Lembu Nandini, Durga dan juga Arca Syiwa dengan berbagai ukuran dan posisi.

Kurang lebih sekitar 300 meter ke arah Barat dari Candi Singosari akan kita temuai dua buah Arca Dwarapala (Raksasa penjaga gerbang) dengan ukuran yang sangat besar. Diperkirakan, berat dari masing-masing Arca tersebut mencapai 40 ton dengan ketinggian 3,7 meter dan lingkar tubuh yang mencapai 3,8 meter. Jarak antara kedua patung tersebut kurang lebih sekitar 20 meter yang sekarang dipisahkan oleh jalan raya. Diperkirakan Arca tersebut merupakan penjaga pintu gerbang dari istana Raja Kertanegara (1268-1292) yang terletak di sebelah Barat kedua patung tersebut.

Akses menuju Candi Singosari.

nisamufti.blogspot.com
nisamufti.blogspot.com

Untuk bisa sampai ke Candi Singosari, kita bisa mengaksenya dengan menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat, atau bisa juga menggunakan angkutan umum. Dari pusat Kota Malang, Arhkan kendaraan menuju ke jalur Malang-Surabaya hingga sampai di Pasar Singosari. Tidak jauh dari pasar tersebut, atau kira-kira sekitar 500 meter ke arah Utara pasar akan kita dapati tempat wisata ini. Karena letaknya yang cukup strategis, yaitu pada jalan poros Surabaya-Malang sehingga akan sangat mudah kita jumpai angkutan umum yang lewat Singosari. Tentunya hal tersebut akan sangat memudahkan kita yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Untuk biaya masuk ke Candi ini juga sangat murah, yaitu sekitar Rp5000 untuk /orang dewasa dan sekitar Rp3500 /anak. Selain bisa berlibur bersama keluarga, kita juga bisa sambil belajar mengenai sejarah pada zaman dulu.

Demikian sedikit informasi mengenai wisata sejarah Candi Singosari. Pastikan bahwa semua informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Coban Pelangi, Secuwil Keindahan Daerah Konservasi

Berwisata ke alam terbuka tentu akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik di sela-sela kesibukan sehari-hari. Selain berkunjung ke taman atau pantai, berkunjung ke wisata air terjun juga bisa menjadi salah satu destinasi yang sangat tepat untuk kita masukkan ke dalam daftar tujuan liburan kita bersama keluarga. Ngomong-ngomong soal tujuan wisata, saya rasa Kota Malang merupakan salah satu yang paling recomended untuk dikunjungi. Bagaimana tidak, di Kota Malang banyak terdapat tempat liburan dengan nuansa alam yang masih alami, seperti halnya wisata air terjun dan salah satunya adalah air terjun Coban Pelangi.

Coban Pelangi ini terletak di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tepatnya sekitar 2 kilometer dari Desa Gubugklakah atau kurang lebih 32 kilometer sebelah timur Kota Malang. Yang secara administratif masuk dalam daerah konservasi Perum Perhutani KPH Malang yang dikelilingi dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) dan berada pada ketinggian 1299,5 meter di atas permukaan laut, tepatnya di bawah kaki Gunung Semeru dengan suhu berkisar antara 19-23 derajat Celcius.

Akses menuju Coban Pelangi.

Jika kita ingin berkunjung ke tempat ini, sangat disarankan untuk datang di sana waktu pagi hari. Karena, saat pagi hari kita bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dengan kabut lembut yag sayang untuk dilewatkan. Dan perlu diingat juga, ketika musim penghujan wana wisata air terjun Coban Pelangi ini hanya dibuka sampai jam 16:00 saja (pukul 4 sore). Hal ini dikarenakan untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi ketika ada air bah yang datang dari hulu pegunungan.

Suasana sekitar Coban Pelangi ini bisa dikatakan sangat sejuk. Dengan suhu udara yang sangat dingin ditambah lagi dengan suara guyuran air yang jatuh dari atas tebing dengan ketinggian kurang lebih sekitar 110 meter akan membuat pikiran kita menjadi fresh. Selain itu, kita juga akan disuguhi dengan kilauan bias warna pelangi yang timbul dari percikan air yang terkena bias sinar matahari. Karena itulah air terjun ini dinamakan Coban Pelangi (Air Terjun pelangi).

Akses jalan menuju Coban Pelangi juga sudah baik dan beraspal dengan tipikal jalan yang terus menanjak. Apalagi setelah memasuki Desa Gubugklakah, jalanan malah semakin menanjak dan ditambah lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok dan sempit. Jadi, kita harus ekstra hati-hati apalagi dan jangan ngebut, karena ruas jalan di sini hanya cukup untuk dilewati 1 kendaraan roda empat dan 1 kendaraan roda dua saja. Terlaepas dari semua itu, sepanjang perjalanan kita menuju ke Coban Pelangi, kita akan dimanjakan dengan panorama alam yang sangat indah sekali (Subhanallah).

Area wisata Coban Pelangi.

surabaya.panduanwisata.id
surabaya.panduanwisata.id

Setelah sampai di pintu masuk wana wisata Coban Pelangi kita bisa memarkir kendaraan kita dan melanjutkannya dengan berjalan kaki, kurang lebih sekitar 1 km dengan kondisi jalanan terjal menurun. Sebelumnya, untuk bisa masuk kita harus membeli tiket dulu, dengan harga sekitar Rp10.000/orang. Walaupun kita harus berjalan cukup jauh dan pastinya juga dibutuhkan stamina yang prima. Namun, semua itu akan terbayar tuntas dengan pemandangan yang akan kita lihat disepanjang perjalanan, (subhanallah) sangat indah sekali. Selain itu, disepanjang jalan juga banyak kita temui tempat peristirahatan serta warung-warung yang menyediakan aneka macam makanan dan minuman.

Sekitar separuh perjalanan yang kita lewati, akan banyak kita temui area camping yang berada di sisi kanan jalan, namun lokasi camping tersebut tidak terlalu luas dan hanya bisa menampung beberapa tenda saja. Jika tujuan kita datang ke sini untuk ber-camping, kita akan dikenakan tiket masuk yang berbeda dari pengunjung biasanya dengan tambahan fasilitas kamar mandi dan toilet, selebihnya hanya area camping saja.

Masih disekitar area camping, kita akan mendapati pangkalan kuda (Nunggang Jaran = Naik Kuda). Nunggang jaran merupakan fasilitas yang bisa kita gunakan sebagai alternatif untuk mencapai pintu masuk (ketika perjalanan pulang). Kuda tersebut memang khusus disediakan untuk melayani para pengunjung yang ingin merasakan sensasi berkuda atau karena sudah kelelahan setelah melakukan perjalanan yang menguras tenaga. Untuk bisa menggunakan fasilitas nunggang jaran, kita harus membayar sekitar Rp10.000 saja.

Setelah kita melewati area camping, kita akan dihadapkan dengan medan menurun yang lumayan curam dan berakhir pada sebuah jembatan bambu. Jembatan bambu ini dikenal dengan nama jembatan cinta, entah kenapa jembatan ini dinamakan demikian. Tapi menurut informasi yang saya peroleh, hal tersebut dikarenakan banyaknya muda-mudi yang bergandengan tangan ketika menyeberangi jembatan ini. Wajar saja, karena jembatan ini hanya bisa dilewati dua orang saja. Tak jarang juga jembatan ini dijadikan sebagai spot foto favorit para pengunjung. Hal tersebut dikarenakan bentuknya yang unik dan klasik, ditambah lagi dengan namanya yang cukup menggelitik.

Selepas dari jembatan cinta, sudah bisa kita dengar sayup-sayup gemuruh air terjun. Hal tersebut menandakan bahwa kita sudah semakin dengan air terjun Coban Pelangi, kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja dari jembatan cinta, kita akan sampai ke tempat tujuan.

Tak terasa langkah kaki akan semakin cepat, tak sabar ingin segera menyaksikan keindahan Coban Pelangi yang sangat fenomenal tersebut. Hanya perlu melewati sedikit jalanan yang menanjak, sudah bisa kita lihat air tejun Coban Pelangi nan eksotis tersebut. Ketika sudah mendekati air terjun kita harus berhati-hati, karena kita akan melewati bebatuan yang licin serta adanya beberapa titik longsor yang setiap saat bisa mengancam keselamatan, terutama ketika musim penghujan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata air terjun Coban Pelangi, semoga informasi ini bisa bermanfaat. Pasatikan bahwa, semua informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Mitos dan Pesona Coban Rondo yang Tak Terpisahkan

Coban Rondo merupakan salah satu wisata air terjun yang berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang secara administratif masuk dalam wilayah KPH Perhutani Malang Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon serta Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.

Air terjun Coban Rondo ini berada pada ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut dan mempunyai ketinggian kurang lebih sekitar 84 meter. Ketika musim hujan debit airnya bisa mencapai 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau mencapai 90 liter/detik yang berasal dari Cemoro Dudo dan lereng Gunung Kawi. Di kawasan ini rata-rata memiliki curah hujan sekitar 1.721 mm/th pada bulan basah (November-Maret) serta bulan kering (April-Oktober) dengan rata-rata suhu sekitar 22 derajat celcius.

Uniknya air tersebut ternyata tidak mengalir langsung dari Cemoro Dudo dan Lereng Gunung Kawi ke Coban Rondo, melainkan melewati dua air terjun kembar terlebih dahulu. Air terjun tersebut adalah air terjun Coban Manten yang menjadi satu dengan air terjun Coban Dudo. Dari Coban Dudo baru kemudian ke Coban Rondo yang kita kenal saat ini. Jika kita ingin melihat air terjun Coban Manten yang berada di Kepundan kita membutuhkan ekstra tenaga serta ekstra hati-hati, karena jaraknya yang lumayan jauh, yaitu sekitar 3-4 km dengan medan yang cukup licin.

Kisah dibalik keindahan Coban Rondo.

yudasmoro.net
yudasmoro.net

Selain beberapa hal di atas. Ternyata, Coban Rondo juga memiliki legenda yang sangat unik, yang dikisahkan di mana ada sepasang pengantin yang baru melaksanakan pernikahan. Pengantin wanitanya bernama Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, sedangkan pengantin prianya bernama Raden Baron Kusumo yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Singkat cerita, usia pernikahan mereka sudah menginjak 36 hari (selapan dalam istilah orang Jawa) sang istri (Dewi Anjarwati) mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro yang merupakan tempat asal dari Raden Baron Kusumo (sang suami). Tetapi, hal tersebut dilarang oleh kedua orang tua Dewi Anjarwati, mengingat usia pernikahan mereka yang baru 36 hari (Menurut kepercayaan orang Jawa, pengantin baru tidak boleh keluar selama masih dalam usia selapan).

Namun, keduanya tidak mempedulikan hal tersebut dan tetap bersikeras untuk melanjutkan niatnya dengan segala resiko yang akan terjadi nanti. Singkat cerita, ketika di tengah perjalanan mereka menuju ke Gunung Anjasmoro, mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak diketahui asal-usulnya. Dalam kisah tersebut dikatakan bahwa Joko Lelono jatuh cinta kepada Dewi Anjarwati dan berusaha untuk merebutnya dari tangan Raden Baron Kusumo. Namun, Raden Baron Kusumo tidak terima begitu saja. Akhirnya, perkelahian diantara keduanya tidak terelakan lagi. Raden Baron Kusumo berpesan kepada para prajuritnya untuk membawa istrinya ke suatu tempat yang ada air terjunnya (Coban). Perkelahian antara keduanya pun berlangsung sangat sengit dan menyebabkan mereka berdua meninggal. Sejak saat itu Dewi Anjarwati menjadi janda (rondo), sehingga air terjun di mana tempat Dewi Anjarwati bersembunyi dinamakan dengan Coban Rondo (air terjun janda). Konon katanya, di bawah air terjun tersebut terdapat sebuah gua yang menjadi tempat persembunyian Dewi Anjarwati serta batu besar yang ada di bawah terjun dipercaya sebagai tempat duduk Dewi Anjarwati ketika sedang merenungi nasibnya.

Terlepas dari legenda Coban Rondo yang memilukan tidak membuat pesona keindahannya menjadi turun pamor, melainkan semakin rame dikunjungi oleh para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara. Keindahan alam yang ada disekitar Coban Rondo memang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setingan latar sebuah film ataupun pembuatan video klip serta sebagai obyek fotografi.

Jalur menuju Coban Rondo.

Selain itu, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari pusat kota. Kira-kra hanya sekitar 12 km dari Kota Batu atau kurang lebih 24 km dari Kota Malang yang bisa dotempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Akses untuk menuju ke sana juga sangat mudah serta didukung dengan jalanan yang sudah beraspal. Jika kamu datang dari jalan raya arah Batu – Pujon, Malang, setelah melewati tanjakan yang cukup landai dengan jalan yang berkelok-kelok, maka kamu sudah dekat dengan area puncak perbukitan tempat wisata Coban Rondo. Di sana akan kamu temui sebuah papan nama berukuran besar yang akan memberikan petunjuk ke arah wana wisata Coban Rondo (belok kiri keluar dari jalan raya).

Setelah itu kita akan menemui sebuah patung sapi, dari situ kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi, kurang lebih sekitar 4 km. Di dua kilometer sebelum kita masuk ke kawasan, kita akan menjumpai sebuah papan nama yang bertuliskan “Welcome to Wana Wisata Coban Rondo”. Di sini kita akan memasuki area hutan dengan jalanan menurun dan pastinya dengan udara yang sangat sejuk. Di sekitar hutan akan banyak kita lihat gubug-gubug para pedagang serta kendaraan yang berjejer. Setelah itu, kita akan melewati sebuah tanjakan dan kurang dari dua menit kita akan sampai di tempat tujuan.

Jika kamu menggunakan angkutan umum, kamu bisa naik bis jurusan Surabaya – Malang, setelah sampai di terminal Arjosari, naiklah bemo jurusan Landungsari. Kemudian lanjutkan lagi dengan naik bis jurusan Kediri via Pujon (yang lewat Pujon) dan turun di patung sapi, yang merupakan pintu gerbang menuju Coban Rondo. Dari patung sapi banyak tukang ojek yang siap untuk mengantar kamu ke tempat tujuan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata Coban Rondo dan semoga liburanmu menyenangkan. Pastikan bahwa informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Pesona Pantai Ngliyep yang Masih Tersembunyi

Pantai Ngliyep merupakan salah satu pantai yang berada di pesisir Pantai Selatan dan terletak di tepi Samudera Hindia yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau sekitar 62 kilo meter ke arah selatan dari Kota Malang.

Luas area wisata ini kurang lebih sekitar 10 hektar yang terdiri dari area wisata, hutan lindung, lahan parkir dan juga penginapan. Masalah fasilitas bisa dibilang sudah lengkap lah pokoknya. Dulu, Pantai Ngliyep merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di Jawa Timur bahkan jauh sebelum dikenalnya Pantai Balekambang dan Pantai Sendangbiru.

Kurangnya pengelolaan tempat wisata serta sengketa yang terjadi antara Pemerintah Daerah dan Perum Perhutani setempat, al hasil popularitas dari Pantai Ngliyep pun semakin terpuruk.

Keindahan Pantai Ngliyep.

Terlepas dari semua itu, memang tidak usah diragukan lagi akan panorama keindahan yang disuguhkan oleh pantai ini. Bagaimana tidak, pantai ini mempunyai hamparan pasir putih yang sangat luas dan lembut, terdapat area bermain yang luas dengan berbagai macam pepohonan rindang serta alunan ombaknya yang bisa membuat siapapun merasa ingin tertidur. Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing curam serta hamparan hutan tropis yang selalu siap untuk memanjakan mata kita. Di sini juga terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan nama Gunung Kombang yang sering dijadikan sebagai tempat ritual untuk nyi roro kidul.

Tak jauh dari sini (Pantai Ngliyep) juga terdapat sebuah teluk dengan pemandangan yang sangat indah, yang dikenal dengan nama Teluk Putri. Dinamakan demikian, karena teluk ini dilapisi oleh pasir putih kurang lebih setebal 40 cm yang sangat bersih dan lembut, yang disebut-sebut mirip dengan kulit putri. Walaupun pasir tersebut tidak luas atau hanya 100 meter persegi saja, tetapi sangat nyaman untuk menyepi (menyendiri). Untuk menuju ke sana (Teluk Putri) kita hanya perlu berjalan kaki ke sisi kiri dengan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Tapi sesampainya di Teluk Putri kita harus berhati-hati, karena terkadang ada gelombang besar yang menyapu teluk ini. Oleh karena itu, pengunjung dilarang untuk mendekat ke bibir pantai dan hanya boleh berada di area pasir putih saja.

Uniknya, setiap tanggal 14 bulan Maulud (Rabiul Awal) pantai ini akan semakin ramai. Bukan oleh pengunjung, tapi oleh para warga sekitar yang mengadakan acara Labuhan yang sudah turun-temurun sejak zamannya Mbah Atun (Orang yang dipercaya sebagai penemu Ngliyep, tahun 1919). Labuhan sendiri merupakan acara adat masyarakat Jawa (pesisir) berupa selamatan yang biasanya disertai dengan acara menyembelih Kambing atau Sapi yang nantinya akan dibagi-bagikan kepada warga sekitar, serta dilarung atau dihanyutkan ke laut. Selain itu, warga sekitar juga membawa beraneka ragam sesaji dan diiringi dengan kesenian Jaranan serta pengawal yang memakai pakaian adat untuk mengarak sesaji tersebut ke Gunung Kombang yang berjarak sekitar 300 meter dari pesanggrahan Pantai Ngliyep.

Jalur menuju Pantai Ngliyep.

eastjavabeauty.blogspot.com
eastjavabeauty.blogspot.com

Akses untuk mencapai ke Pantai Ngliyep juga sangat mudah dan nyaman pastinya, karena jalanannya yang sudah bagus dan beraspal sejak tahun 1980. Kita bisa menempuhnya dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun naik mikrolet jalur GN1 dengan jalur Gadang-Ngliyep melewati Donomulyo atau jalur GN2 dengan jalur Gadang-Ngliyep melewati Sumbermanjing Kulon atau yang lebih dikenal dengan Kecamatan Pagak.

Untuk bisa masuk ke sini (Pantai Ngliyep) kita akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp5000/orang serta biaya parkir Rp5000/mobil. Ingat, selalu jaga kebersihan pantai agar anak cucu kita juga bisa menikmatinya dan bukan hanya mendengar kisahnya saja, atau yang lebih parahnya lagi anak cucu kita tidak tahu apa itu kepiting.

Demikian sedikit informasi mengenai Pantai Ngliyep yang ada di Malang, Jawa Timur. Pastikan semua info yang kamu peroleh seputar Kota Malang bersumber dari malang.kotamini.com.

Pantai Balekambang, Tanah Lot-nya Pulau Jawa

Jika kamu perhatikan foto di atas, mungkin hal pertama yang terpikirkan adalah Tanah Lot yang ada di Bali. Tapi sayangnya kurang tepat, foto di atas adalah panorama sunset di pantai Balekambang. Sekilas memang hampir sama dengan Tanah Lot di Bali dengan adanya Pura di atas pulau Karang.

Pantai Balekambang sendiri merupakan sebuah pantai yang berada di pesisir selatan pulau Jawa, yang secara administratif masuk dalam wilayah dusun Sumber Jambe, Srigonco, Bantur, Malang, Jawa Timur. Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata andalan kabupaten Malang sejak tahun 1985-sekarang.

Pesona pantai Balekambang memang tak usah diragukan lagi, suasananya yang masih asri serta kebersihannya yang selalu terjaga, merupakan nilai tambah tersendiri yang semakin meyakinkan kita untuk datang mengunjunginya.

Garis pantainya yang membentang sepanjang 2 KM dengan lebar 200 meter merupakan tempat yang paling cocok untuk menikmati deburan ombak pesisir pantai selatan yang terkenal akan keindahannya. Selain itu, juga banyak terdapat berbagai macam jenis karang, ikan hias, serta kerumunan biota laut yang bisa kita nikmati keindahannya ketika air laut sedang surut.

Dari lepas pantai juga bisa kita lihat ada 3 buah pulau karang yang berjajar ke arah Barat. Pulau-pulau tersebut bernama, pulau “Anoman”, pulau “Ismoyo” dan pulau “Wisanggeni”. Di atas pulau Ismoyo terdapat sebuah Pura yang bernama “Amerta Jati”, kita bisa mengaksesnya dengan menggunakan jembatan yang menghubungkan antara pulau Ismoyo dengan bibir pantai (kurang lebih 100 meter).

Cerita menarik dibalik keindahan pantai.

infomalangraya.net
infomalangraya.net

Ada kisah yang menarik dibalik Pura Anumerta Jati ini. Yaitu dibangunnya Pura ini dibuat semirip mungkin dengan Pura yang ada di Tanah Lot Bali dan diprakarsai oleh Bupati Malang Edi Slamet pada tahun 1985. Selain sebagai tempat wisata, Pura ini juga masih sering digunakan sebagai tempat upacara keagamaan umat Hindu. Oleh karena itu, pantai ini selalu ramai oleh para pengunjung ketika hari-hari besar umat Hindu, baik untuk berwisata maupun melakukan ritual tertentu dan tak jarang juga ada wisatawan mancanegara yang datang ke sini.

Selain beberapa hal di atas, masih banyak lagi hal menarik yang pastinya hanya bisa kamu nikmati ketika berada di pantai Balekambang ini. Salah satunya adalah menikmati sunset pantai Balekambang yang menyuguhkan siluet Pura dengan background langit senja yang berwarna kuning keemasan. Penasaran! Datang aja langsung, hehe.

Fasilitas yang ada di Pantai Balekambang.

Fasilitas yang ada disini juga sudah lengkap kok. Mulai dari Mushola, warung dan kios yang menyediakan makanan dan minuman hingga suvenir serta permainan anak-anak, dengan harga yang relatif murah. Di sini juga terdapat wahana fliying fox, tetapi hanya tersedia di akhir pekan saja (Sabtu dan Minggu). Untuk tiket masuknya, setiap pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp15.000/orang. Jika kamu ingin menginap, di sini juga terdapat banyak penginapan/hotel dengan kisaran harga Rp100.000-500.000/malam, tergantung dari layanan serta fasilitas yang kita harapkan.

Untuk rute perjalananya sendiri, kita bisa lewat jalur Malang-Kepanjen. Yaitu, lewat Gondanglegi, Pagelaran, Srigonco, Balekambang. Atau bisa juga lewat jalur Malang-Bululawang, yaitu lewat Gadang dan Kendalpayak baru kemudian lewat Gondanglegi, untuk seterusnya sama halnya dengan rute (Malang-Kepanjen).

Demikian sedikit informasi tentang pantai Balekambang Malang, Jawa Timur. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Pastikan informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Inilah 6 Gunung Berapi yang Dijadikan Sebagai Tempat Wisata di Malang

Kota Malang merupakan salah satu kota yang masuk dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Timur, sekitar 90 km arah selatan kota Surabaya.

Malang juga merupakan salah satu kota paling menarik dan santai dengan iklimnya yang sangat sejuk, membuat siapa saja akan betah tinggal di sana. Selain itu, di Malang juga banyak sekali obyek wisata yang sayang untuk dilewatkan, salah satunya adalah beberapa tempat wisata gunung berapi berikut ini.

1. Gunung Bromo

Wisata gunung Bromo
fotowisata.com

Jangan bilang bahwa kamu pernah ke Jawa Timur jika belum pernah menjejakan kakimu di gunung berapi yang sangat indah ini. Gunung Bromo, begitulah orang-orang menyebutnya, sebuah gunung api aktif yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu adanya lautan pasir yang membentang seluas 5.250 hektar dan berada pada ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.

Selain pesona keindahan gunung Bromo, di sini kita juga bisa menikmati kemegahan Semeru yang menjulang ke atas langit, serta menikmati indahnya matahari yang mulai beranjak keluar dari peraduannya ataupun menikmati temaram senja di balik punggung bukit Bromo. Sungguh suatu pengalaman yang tak mungkin bisa kita lupakan dengan begitu saja.

Selengkapnya baca di: Sensasi Wisata Gunung Bromo

2. Gunung Semeru

gunung semeru, mahameru
infopubliklumajang.blogspot.com

Bicara tentang gunung Semeru tentu tak lepas dari yang namanya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang meliputi area seluas 800 km persegi yang berada di wilayah Jawa Timur. Bagi para pecinta gunung berapi, berkunjung ke taman ini adalah suatu keharusan, karena kawasan ini merupakan kawasan gunung berapi terbesar di Jawa Timur.

Salah satunya adalah untuk menikmati keindahan kepulan asap yang keluar dari kawah Semeru. Gunung yang berada pada ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini merupakan gunung berapi aktif yang sayang untuk dilewatkan, khususnya bagi para pecinta alam.

Selengkapnya baca di: Pesona Wisata Gunung Semeru (Mahameru)

3. Gunung Kawi

Kawi Butak

Gunung Kawi merupakan sebuah gunung berapi yang terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Meskipun dikategorikan dalam gunung berapi, tetapi belum pernah ada catatan sejarah tentang letusan gunung berapi yang satu ini.

Sangat disayangkan jika kamu belum pernah berwisata ke sini. Bagaimana tidak, gunung Kawi ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan gunung berapi lain yang ada di Jawa Timur. Jika kamu datang ke sini, kamu akan menemukan suasana yang berbanding 180 derajat dengan namanya. Selain itu, kita juga akan merasa seperti sedang berada di negara orang dengan suasana beberapa ratus tahun yang lalu.

Selengkapnya baca di: Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

4. Gunung Butak

Jika berbicara soal gunung Kawi tentu tak lepas dari gunung Butak yang letaknya bersebelahan dengan gunung Kawi, ada juga yang mengatakan bahwa kedua gunung ini adalah gunung kembar (kembar tapi beda). Sama halnya dengan gunung Kawi (so pastilah, kan gunung kembar) meskipun dikategorikan dalam gunung berapi (stratovolcano), namun belum ada catatan sejarah tentang erupsi dari gunung Butak ini.

Selengkapnya baca di: Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

5. Gunung Arjuno

setapakkecil.com

Gunung Arjuno merupakan sebuah gunung berapi yang berada pada ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut dengan tipe Strato yang masuk dalam pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Gunung Arjuno adalah gunung tertinggi kedua di Jawa Timur, serta tertinggi keempat di pulau Jawa.

Sangat disayangkan tentunya, jika kita tak mampir ke sini ketika sedang berada di Jawa Timur. Sepanjang perjalanan kita menuju ke puncak gunung Arjuno, kita akan dimanjakan dengan pesona keindahan alam yang tiada duanya. Kawasan hutan Dipterokarp Bukit, Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan Hutan Ericaceous juga siap menjamu kedatangan kita. Di sini juga terdapat beberapa wisata lain, diantaranya adalah Kota Wisata Batu dan Taman Safari Indonesia II.

Selengkapnya baca di: 4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

6. Gunung Welirang

Tak lengkap rasanya jika kita berkunjung ke gunung Arjuno tapi malah melewatkan keindahan gunung yang satu ini. Orang-orang menyebutnya dengan gunung welirang (belerang) yang disebut-sebut sebagai kembaran dari gunung Arjuno dan letaknya pun juga bersebelahan dengan ketinggian yang hampir sama.

Selengkapnya baca di: 4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

Wisata Gunung Kawi dan Butak “Pesona Kota di Atas Bukit”

Gunung Kawi merupakan salah satu gunung berapi yang terletak di kota Malang, lebih tepatnya di desa Wonosari, Malang, Jawa Timur. Gunung Kawi sendiri berada pada ketinggian 2.551 meter di atas permukaan laut. Gunung Kawi juga memiliki kembaran, yaitu gunung Butak yang berada pada ketinggian 2.868 meter dia atas permukaan laut dan letaknya juga bersebelahan sama halnya dengan gunung Arjuno dengan gunung Welirang.

Selain dijadikan sebagai wisata pendakian, gunung Kawi juga dijadikan sebagai wisata ziarah yang berbau “mistis”. Sepanjang perjalanan kita menuju puncak gunung Kawi, akan banyak kita temui situs-situs peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur Tiongkok yang berbentuk seperti kuil.

Tempat ini selalu ramai oleh para pengunjung, khususnya di akhir pekan, hari libur nasional serta di hari-hari tertentu yang dipercayai sebagai hari “mistis” seperti ketika malam Jum’at legi dan bulan Suro (kalender Jawa). Kawasan sekitar kaki gunung Kawi kini tidak lagi seperti kawasan wisata alam, melainkan sudah seperti kota yang ada di atas bukit. Dengan semakin menjamurnya hotel, losmen, penginapan, serta rumah makan yang berbaris mulai dari awal jalur pendakian hingga hampir mencapai puncak.

Rute perjalanan.

Untuk mencapai puncak gunung Kawi dan Butak ada beberapa rute perjalanan yang bisa kita gunakan, yaitu lewat jalur Bukit Panderman – Malang, jalur gunung Kawi Kepanjen, Jalur desa Gadingkulon – Dau – Malang dan juga jalur desa Semen – Gandungsari – Blitar.

Tetapi, rute yang paling sering digunakan oleh para pendaki adalah jalur pendakian dari desa Semen. Dari kota Malang kita bisa naik bus jurusan Blitar, kemudian turun di pasar Wlingi. Dari pasar Wlingi, kita akan melanjutkan perjalanan lagi menuju desa Semen, kemudian dilanjutkan lagi menuju ke PTPN XII Sirahkencong yang berjarak sekitar 11 Km dari desa Semen. Kita bisa menggunakan beberapa alternatif untuk menuju ke sana, yaitu dengan menumpang truk pengangkut teh, naik ojek ataupun menyewa pick-up untuk mengantar kita ke sana.

Sesampainya di PTPN XII Sirahkencong, kita harus lapor dulu dengan melampirkan surat izin dari Polsek Semen dan dari sinilah kita akan memulai pendakian.

Setelah keluar dari pos penjagaan PTPN XII Sirahkencong, mata kita akan dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang sangat luas untuk menuju ke Wukir Negara (perbatasan perkebunan dengan hutan) yang bisa kita tempuh dengan sekitar satu jam perjalanan. Setelah sampai di Wukir Negara, kita akan masuk ke kawasan hutan Tropis dengan medan yang cukup berat (penuh tanjakan). Dari Wukir Negara menuju puncak gunung Kawi dan Butak masih sekitar 7-8 jam perjalanan lagi.

Ketika awal perjalanan dari pos yang ada di Wukir Negara akan kita temuai banyak persimpangan jalan, jadi sangat dianjurkan untuk bertanya kepada para petani sekitar yang kita temui ataupun menyewa orang untuk kita suruh sebagai potter. Dari Wukir Negara menuju ke pos bisa kita tempuh kurang lebih sekitar 90 menit dengan medan yang cukup landai. Pos 1 ini ditandai dengan hamparan lahan datar yang sangat luas dengan vegetasi berupa hutan basah yang rapat.

Dari pos 1 menuju ke pos 2 perjalanannya cukup melelahkan, karena medannya yang mulai menanjak dan hanya ada sedikit jalur landai yang bisa kita temui. Tetapi waktu yang kita butuhkan hampir sama dengan perjalanan dari Wukir Negara menuju pos 1, yaitu sekitar 90 menit karena jaraknya yg cukup dekat. Vegetasi dari pos 2 juga masih sama berupa hutan hujan tropis, namun sudah mulai terbuka (gundul).

Selanjutnya, perjalanan dari pos 2 menuju ke pos 3 juga bisa kita tempuh sekitar 90 menit. Di sini medannya lebih berat lagi, karena terus menanjak dan keadaan vegetasinya pun masih tetap sama dengan yang ada di pos 2, hanya saja lebih didominasi oleh pohon Cemara.

Dari pos 3 menuju ke pos 4 perjalanannya lebih melelahkan lagi, karena medannya yang lebih terjal dibandingkan dengan pos-pos sebelumnya. Vegetasi di pos 4 ini sedikit berbeda dengan pos-pos sebelumnya. Di sini suasananya lebih indah, karena banyak ditumbuhi oleh pohon Cemara dan juga bunga Edelweis. Tak jarang juga kita mendengar suara sahutan monyet serta kicauan burung yang semakin menambah semangat kita untuk segera sampai di puncaknya.

Kini tinggal satu pos lagi yang harus kita taklukkan, yaitu pos 5. Perjalanan dari pos 4 menuju ke pos 5 ini membutuhkan waktu yang sama dengan pos-pos sebelumnya. Vegetasi di pos 5 ini berupa hutan lumut dengan beberapa sisa bekas kebakaran hutan.

Dari pos 5, untuk mencapai puncak gunung Kawi dan Butak kita harus melanjutkan perjalanan lagi kurang lebih sekitar 20 menit, tentunya dengan medan yang semakin menanjak. Setelah melalui beberapa rintangan akhirnya kita sampai juga di puncak gunung Kawi dan gunung Butak, dari sini bisa kita lihat beberapa gugusan gunung lainnya, seperti gunung Semeru, Bromo dan lain sebagainya.

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Mintalah surat ijin pendakian di Polsek Wlingi, baru kemudian melapor ke pos pertama dengan menyertakan surat ijin dari Polsek Wlingi. Jangan lupa juga untuk membawa identitas diri seperti KTP, SIM dan lain sebagainya.

Jika kamu mengambil jalur yang ada di artikel ini, kamu harus menyiapkan air minum secukupnya. Karena sepanjang perjalanan yang akan kita lalui sulit untuk ditemui sumber mata air. Namun, jika mengambil jalur yang lain, kamu nggak perlu khawatir karena banyak yang menjajakan makanan dan minuman. Tapi, jika kamu adalah seorang pecinta alam sejati, maka kamu akan mengambil jalur yang ini.

Demikian, sedikit informasi mengenai wisata gunung Kawi dan gunung Butak dengan segala keindahan serta rintangan yang akan kita temui nantinya.

Pastikan bahwa informasi yang kamu dapatkan seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

4 Opsi Menarik Untuk Menuju ke Puncak Gunung Arjuno dan Welirang

Gunung Arjuno merupakan salah satu gunung berapi dengan tipe Strato yang berada pada ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut dan berada di bawah pengelolaan “Hutan Raya Raden Soerjo”. Gunung Arjuno adalah gunung tertinggi ke-2 di Jawa Timur setelah Semeru dan tertinggi ke-4 di pulau Jawa. Selain itu, letak dari gunung Arjuno juga bersebelahan dengan gunung Welirang dengan ketinggian yang hampir sama.

Sejak zaman Majapahit, gunung Arjuno sudah digunakan sebagai tempat untuk memuja, sehingga akan banyak kita temui sisa-sisa peninggalan pada zaman Majapahit dalam bentuk arca maupun reruntuhan Candi yang berserekan mulai dari kaki gunung hingga ke puncaknya.

Setidaknya ada empat jalur pendakian yang bisa kita lalui untuk mencapai puncak gunung Arjuno, yaitu lewat jalur Tretes, Lawang, Purwosari dan Batu.

Jalur Pendakian Tretes

Tretes sendiri merupakan salah satu tempat wisata (Hutan Wisata), dalam area wisata hutan Tretes juga terdapat sebuah air terjun yang sangat indah, yaitu air terjun Kakek Bodo. Di sini juga banyak penginapan yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melakukan pendakian.

Pendakian dimulai dari pos PHPA Tretes, setelah sekitar 4-5 jam melakukan perjalanan ke arah Barat Daya, kita bisa beristirahat dulu di sebuah pondok di mana tempat warga sekitar mencari bijih Belerang. Di sini juga terdapat sumber mata air yang melimpah, jadi kita nggak perlu khawatir jika ingin mandi ataupun mencuci.

Setelah beranjak dari pondok tersebut kita akan melewati hutan Cemara yang medannya cukup terjal dan berbatu. Kira-kira membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan dari pondok penambang Belerang untuk menuju ke puncak gunung Arjuno. Jika ditotal secara keseluruhan, perjalanan mulai dari Tretes hingga sampai ke puncak gunung Arjuno dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar 7-8 jam. Setelah sampai di puncak gunung Arjuno (puncak Ogal-Agil, puncak ringgit) kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah, kita bisa melihat beberapa kota dari atas puncak gunung Arjuno, seperti Malang, Batu, Pasuruan, Surabaya dan juga laut utara.

Jalur Pendakian Lawang

Jalur pendakian Lawang merupakan jalur pendakian yang cukup praktis, dikarenakan akses menuju kota Lawang yang sangat mudah baik itu dari dalam maupun dari luar kota Malang. Untuk kamu yang berasal dari luar kota bisa langsung naik bus jurusan Malang dan turun di Lawang, sedangkan yang berasal dari dalam kota bisa langsung naik kendaraan pribadi atau juga naik bus dari terminal Arjosari menuju Lawang. Dari kota Lawang kita masih harus menuju ke desa Wonorejo untuk memulai pendakian.

Sesampainya di desa Wonorejo kita akan berjalan menuju Perkebunan Teh Wonosari yang berjarak sekitar 3 Km dari desa Wonorejo. Di sini kita wajib lapor dan meminta izin pada petugas PHPA sekaligus mempersiapkan perbekalan kita, karena di sini (Wonosari) merupakan desa terakhir yang akan kita lewati, selanjutnya adalah hutan belantara. Setelah berjalan sekitar 3-4 jam kita akan sampai di oro-oro ombo, di sini kita bisa mendirikan tenda untuk beristirahat.

Dari oro-oro ombo, kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi sekitar 6-7 jam menuju puncak gunung Arjuno. Sepanjang perjalanan kita dari oro-oro ombo, kita juga akan melewati sebuah hutan yang bernama hutan Lali Jiwo dan juga padang rumput yang medannya sangat curam. Jika sudah mendekati puncak gunung Arjuno, kita akan melewati batu-batu terjal yang banyak ditumbuhi oleh tanaman indah.

Jalur Pendakian Purwosari

Jika kita ingin mendaki gunung Arjuno lewat jalur Purwosari dan kita datang dari arah Surabaya langsung saja turun di pasar Purwosari. Dari pasar Purwosari kita harus melanjutkan perjalanan lagi menuju desa Tambak Watu, ada beberapa alternatif yang bisa kita pakai. Yang pertama naik angkutan desa (warna kuning) dengan biaya sekitar Rp3000 atau bisa juga dengan naik ojek, kalau naik ojek biayanya relatif atau tergantung dari kesepakatan dengan si tukang ojek. Sesampainya di desa Tambak Watu, kita harus lapor dan minta izin pendakian di pos yang sudah disediakan (Rp2000/orang).

Awal pendakian kita bermula dari sini (desa Tambak Watu). Dari sini kita akan melewati hutan Pinus yang tertata sangat rapi dan di tengah-tengahnya banyak ditanami dengan pohon kopi dan juga pisang. Setelah berjalan kira-kira sekitar 1 jam perjalanan, kita akan sampai di sebuah gua yang bernama gua Antaboga yang berada di bawah tebing Batu menghadap ke arah Utara dengan kedalaman sekitar 1,5 meter, lebar 1 meter den tinggi sekitar 1,25 meter. Di sini kita bisa beristirahat sejenak di sebuah pondokan yang sering digunakan oleh para wisatawan yang berkunjung ke gua Antaboga.

Dari gua Antaboga kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Petilasan Eyang Abiyasa yang bisa kita tempuh sekitar 1,5 jam. Dari petilasan Eyang Abiyasa, kira-kira sekitar 10 menit kita akan sampai di Situs Eyang Sakri. Setelah itu, kita akan melewati sebuah situs yang bernama situs Eyang Semar, namun tempat ini terkenal sangat angker, jadi tidak disarankan untuk beristirahat ataupun bermalam di sini meskipun ada beberapa pondok yang bisa ditempati untuk istirahat. Kemudian kita juga akan melewati Wahyu Makutarama dan juga puncak Sepiral.

Dari puncak Sepiral ini, jika kita berjalan menuju ke arah Kanan menyusuri bukit, kita akan sampai pada sebuah Candi yang bernama Candi Wesi. Di sini bisa kita jumpai beberapa peninggalan zaman Hindu-Budha dulu (Majapahit) salah satunya adalah tiga patung Pandawa yang dulunya ada lima, namun yang dua yitu patungnya Nakula dan Sadewa hilang dicuri. Dari sini, kita harus melanjutkan perjalanan lagi melewati sebuah Candi yang bernama Candi Manunggale. Dari Candi Manunggale kita masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 5 jam lagi untuk mencapai puncak gunung Arjuno.

Jalur Pendakian Batu

Jalur ini berada di sebelah Barat gunung Welirang, jalur yang satu ini bisa dikatakan sebagai jalur yang paling menarik sekaligus menyenangkan. Bagaimana tidak, sepanjang kita melakukan perjalanan pendakian, kita akan dimanjakan dengan keindahan panorama alam yang mampu membuat pikiran kita menjadi tenang. Iklim kota Batu yang cukup dingin membuat kota ini menjadi salah satu kota penghasil buah-buahan terbesar di Indonesia.

Perjalanan pertama kita adalah menuju desa Sumber Brantas Lewar Selecta. Baru awal perjalanan saja kita akan dimanjakan dengan taman wisata Selecta yang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Jika ingin beristirahat dulu di sini juga bisa, di sini banyak sekali losmen ataupun hotel yang bisa kita gunakan untuk menginap. Di desa ini juga terdapat sumber mata air yang berasal dari sungai Brantas yang juga masuk dalam kawasan perhutani Jawa Timur.

Dari desa Brantas kita akan berjalan menuju arah Pacet, Mojokerto, kurang lebih sejauh 8 Km. Dan sampailah kita di Cagar Alam yang masuk dalam kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo, di sini kita bisa menikmati sensasi mandi air hangat yang berada di bawah kaki gunung Welirang. Dari sini kita masih harus terus berjalan melewati hutan Tropis yang sangat lebat.

Setelah melakukan pendakian kurang lebih sekitar 4 jam (dari Taman Hutan Rakyat Suryo) kita akan sampai di sebuah bukit yang menghubungkan antara gunung Arjuno dan gunung Welirang. Tepatnya di sebelah Tenggara gunung Kembar 1, di sini ada persimpangan ke arah Kiri jika ingin menuju ke gunung Welirang (perjalanan sekitar 2-3 jam), sedangkan yang ke arah Kanan ialah menuju ke gunung Arjuno (perjalanan 4-5 jam). Sepanjang perjalanan kita menuju ke puncak gunung Welirang dan Arjuno, mata kita akan dimanjakan dengan keindahan hamparan padang Edelweis serta bisa kita jumpai berbagai macam hewan liar seperti Lutung, Kijang, Rusa dan Tupai.

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Pastikan kamu membawa semua perlengkapan yang akan kamu butuhkan untuk mendaki gunung, seperti Sapatu boots, Jaket tebal, masker, tali, tenda, persediaan makanan serta lain sebagainya. Jika kamu ingin perjalanan pendakian kamu semakin menarik ada beberapa opsi yang bisa kamu ambil. Yang pertama adalah lewat jalur Purwosari, di jalur ini banyak kita jumpai peninggalan sejarah zaman Majapahit dalam bentuk Candi dan Arca serta yang lainnya. Yang kedua adalah lewat jalur Batu dan Tretes, namun kita harus menyiapkan budget yang cukup tebal jika kita ingin melalui jalur ini, karena di jalur ini banyak sekali kawasan wisata yang mungkin akan menggoda kita untuk mengunjunginya. Yang ketiga adalah lewat jalur Lawang, jika kamu ingin perjalanan kamu lebih cepat.

Demikian sedikit informasi tentang jalur pendakian yang bisa kita gunakan untuk menuju ke puncak gunung Arjuno dan Welirang. Pastikan bahwa informasi yang kamu dapat seputar kota Malang berasal dari malang.kotamini.com.

Pesona Wisata Gunung Semeru (Mahameru)

Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, yaitu mencapai 3.676 meter di atas permukaan laut tepat pada puncaknya. Jonggring Saloko, begitulah orang-orang menyebut kawah yang berada di puncak gunung Semeru.

Selain pesona keindahan kawah Semeru, di sana juga terdapat kawasan hutan Dipterokarp Atas, Dipterokarp Bukit, hutan Ericaceous (hutan gunung) serta hutan Montane.

Gunung Semeru sendiri terletak diantara dua wilayah administrasi kabupaten Lumajang dan Malang dengan letak geografis 8°06′ Lintang Selatan dan 120°55′ Bujur Timur.

Pada tahun 1913 dan 1946 kawah Jonggring Saloka mempunyai kubah yang ketinggiannya mencapai 3.744,8 meter sampai akhir November 1973. Namun, sisi selatan dari kubah tersebut mendorong tepi kawah dan mengakibatkan aliran lava yang kemudian mengarah ke selatan di sekitar daerah Pronowijo dan juga Candipuro Lumajang.

Ekspedisi ke puncak gunung Semeru.

Mendaki gunung Semeru, membutuhkan waktu kurang lebih sekitar empat hari untuk pulang-pergi. Ada dua pilihan rute perjalanan yang bisa kita ambil, yaitu lewat kota Lumajang atau Malang. Jika lewat Malang, sesampainya di terminal langsung saja naik angkutan umum menuju ke desa Tumpang. Jika sudah sampai di desa Tumpang langsung saja naik Jip ataupun Truk sayuran yang biasanya pada parkir di belakang pasar terminal Tumpang. Biayanya cukup murah, hanya dengan Rp20.000 kita akan diantar sampai ke pos Ranu Pane.

Sebelum melakukan pendakian, kita harus mampir dulu ke Gubugklakah untuk mengurus ijin dengan biaya sekitar Rp6000 saja (maksimal untuk 10 orang), karcis masuk Rp2000/orang, serta asuransi Rp2000/orang.

Jalur pendakian dimulai dari desa Tumpang, kemudian menuju ke Ranu Pane yang merupakan desa terakhir di bawah kaki gunung Semeru. Di sini bisa kita jumpai pos pemeriksaan, warung serta pondok penginapan. Jika kita membawa tenda, kita akan dikenakan biaya nitip sekitar Rp20.000/tenda, kamera Rp5000/kamera. Selain itu, kita juga bisa menyewa porter (warga lokal yang akan membantu kita menunjukkan arah, mengangkat barang dan juga masak). Di pos ini kita juga akan dimanjakan dengan keindahan danau Ranu Pane dan Ranu Regulo yang berada pada ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut.

Jika sudah sampai di gapura “SELAMAT DATANG”, perhatikan terus jalur menuju bukit yang ada di sebelah kiri, jangan lewat jalan lebar yang menuju ke arah kebun penduduk. Selain jalur sebelah kiri (yang sering dilewati para pendaki) ada juga jalan pintas yang sering digunakan para pendaki lokal, namun jalur ini sangat curam.

Jalur pendakian ini cukup landai, menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi alang-alang. Di sini kita tidak akan pernah bisa menemukan yang namanya penunjuk arah, tapi bisa kita temui tanda ukuran jarak setiap 100 meter.

Setelah berjalan menyusuri bukit kira-kira sekitar 5 km, kita akan sampai di Watu Rejeng. Di sini bisa kita temui batu terjal yang sangat indah. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan keindahan lembah dan bukit-bukit yang banyak ditumbuhi pohon Cemara dan Pinus. Terkadang kita juga bisa melihat kepulan asap yang bersal dari puncak gunung Semeru. Dari sini masih sekitar 4,5 Km lagi untuk sampai di Ranu Kumbolo.

Sesampainya di danau Ranu Kumbolo kita bisa beristirahat sambil menikmati keindahan danau yang memiliki luas sekitar 14 hektar dan berada pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut tersebut.

Jika sudah puas menikmati keindahan Ranu Kumbolo dan ingin segera untuk melanjutkan perjalanan, sebaiknya kita siapkan air sebanyak mungkin. Sepanjang perjalanan dari Ranu Kumbolo, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah. Di sana kita akan menjumpai padang rumput yang sangat luas (warga sekitar menyebutnya dengan ORO-ORO OMBO). Sekeliling oro-oro ombo tersebut berupa jajaran gunung dan bukit yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Dari balik salah satu gunung yang bernama gunung Kepolo dapat kita lihat puncak Semeru yang penuh dengan asap.

Tak lama kemudian kita akan memasuki area hutan Cemara (Cemoro Kandang), yang terkadang bisa kita jumpai beragam burung dan Kijang. Di sini akan kita jumpai sebuah pos (pos Kalimati) yang berada pada ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Jika ingin mandi atau mengambil air, kita harus berjalan menuju arah Barat (kanan) menyusuri hutan Kalimati sekitar 1 jam perjalanan (pulang-pergi) menuju mata air Sumber Mani.

Dari sini (pos Kalimati) kita bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Arcopodo sekitar 500 meter ke arah Timur (kiri), kemudian belok ke Selatan (kanan) menuruni padang rumput Kalimati. Perjalanan dari Kalimati menuju Arcopodo bisa ditempuh sekitar satu jam dengan melewati hutan Cemara yang sangat curam dan tekstur tanah yang mudah longsor serta berdebu. Jadi sangat disarankan untuk memakai masker dan kacamata. Arcopodo sendiri berada pada ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut, dan merupakan wilayah vegetasi terakhir di sekitar gunung Semeru, selanjutnya kita akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo, untuk mencapai puncak Semeru membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam perjalanan melewati bukit-bukit pasir yang sangat curam dan mudah longsor. Sebagai panduan, di jaur tersebut akan kita temui beberapa bendera segitiga berwarna merah (peringatan bahaya longsor). Oleh sebab itu, kita sangat dianjurkan untuk menitipkan barang-barang yang kita bawa di pos Kalimati ataupun Arcopodo. Sebaiknya, perjalanan dari Arcopodo kita mulai sekitar jam 02 dini hari dengan tujuan agar kita bisa menikmati sunrise di atas puncak gunung Semeru (Mahameru).

Tips sebelum melakukan pendakian

pramitadrm.blogspot.com
pramitadrm.blogspot.com

Pastikan kita membawa bekal yang cukup dan lengkap (sesuai dengan yang dibutuhkan). Kemudian, jangan melakukan pendakian ke puncak gunung Semeru pada siang hari, karena pada siang hari angin akan bertiup ke arah menuju puncak gunung dengan membawa gas beracun yang berasal dari Kawah Jonggring Saloka. Pendakian sebaiknya kita lakukan saat musim kemarau (Juni-September) dan jangan pernah melakukan pendakian ketika musim hujan, karena sering terjadi tanah longsor dan juga badai.

Semoga informasi ini bisa membantu kamu dalam mempersiapkan diri dalam melakukan persiapan pendakian. Pastikan bahwa informasi yang kamu dapat seputar kota Malang, kamu dapatkan dari malang.kotamini.com.