Inggil Museum Resto, Tempat yang Asyik Untuk Makan dan Belajar

Di postingan sebelumnya, sudah saya bahas salah satu tempat makan klasik yang masih bertahan sampai sekarang ini. Bagi yang belum sempat membaca, silahkan klik link-nya “Mencicipi Nikmatnya Es Krim Toko OEN (Old Fashioned Ice Cream in Malang)” dan nikmati es krimnya.

Ngomongin tentang yang klasik-klasik, kayaknya kurang lengkap jika belum menyimak tulisan di bawah ini.

Diboeka roema makan baroe! Namanja…
“INGGIL”
Hidangannja pasti memoeasken selera dan tempatnja laen daripada jang laen.
Toean-toean dan njonja-njonja silaken mentjoba!

Ternyata susah banget ya mengeja tulisan zaman dulu, untung sudah ada EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) coba kalau belum? Pasti sudah banget ngomongnya. Tulisan di atas adalah semacam poster iklan yang digunakan untuk mempromosikan sebuah rumah makan. Rumah makan tersebut bernama “INGGIL” atau yang sekarang kita kenal dengan “Inggil Museum Resto”.

Kalau kita datang ke sini, bukan hanya perut saja yang akan kenyang. Kita juga akan menambah wawasan tentang Malang tempoe doeloe. Di sini banyak terdapat barang antik yang mungkin belum pernah kamu lihat sebelumnya. Pokoknya sesuai dengan namanya, yaitu Inggil Museum Resto.

Saat memasuki tempat ini, kita akan dimanjakan dengan interior resto yang sangat unik dengan suasana klasik nan kental. Ada beberapa macam opsi yang bisa kita pilih untuk menikmati hidangan dari Inggil Museum Resto, mau duduk di kursi dengan meja bisa atau yang pengen lesehan juga bisa. Uniknya lagi, di tempat ini terpajang foto Gunung Arjuno dengan ukuran super besar yang mereka tempatkan di dinding serta adanya gubuk lesehan dari bambu yang akan memberikan sensasi seakan-akan kita sedang makan di bawah kaki Gunung Arjuno.

Sambil menunggu pesanan datang, kita bisa berkeliling dulu untuk melihat apa saja yang ada di Inggil Museum Resto ini. Dijamin pasti kamu akan tercengang ketika melihat semua koleksi barang antik yang ada di sini. Bukan cuma barang antik, di sini juga akan kita temui koleksi uang kuno, poster-poster iklan tempo dulu, serta beberapa merk-merk rokok kretek zaman dulu. Penasaran bagaimana penampakannya! Silahkan cek gambar-gambar di bawah ini, untuk lebih jelasnya lagi datang aja langsung.

Koleksi barang antik Inggil Museum Resto.

inggil24
Inggil Museum Resto
inggil2
Inggil Museum Resto
inggil27
Inggil Museum Resto
inggil25
Inggil Museum Resto
inggil22
Inggil Museum Resto
inggil21
Inggil Museum Resto

Dibagian tengah resto juga terdapat sebuah panggung tradisional yang lumayan besar. Panggung tersebut biasanya digunakan untuk melangsungkan pertunjukan ketoprak, gamelan, keroncong dan juga dangdut campur sari. Sedangkan yang dibagian luar terdapat panggung wayang. Eits jangan salah! Meskipun resto ini lebih mirip dengan museum atau juga rumah budaya. Tetapi, di sini juga disediakan yang namanya WiFi. Kalau nggak percaya ini buktinya!

inggil13
Inggil Museum Resto

Menu andalan Inggil Museum Resto

Setelah puas berkeliling dan menikmati keunikan barang-barang antik yang ada di sini, saatnya untuk kembali ke meja makan dan menikmati semua menu makan yang sudah kita pesan tadi. Menu andalan dari Inggil Museum Resto ini adalah Gurame bakar/goreng dan ayam bakar/goreng. Begitu kamu mencoba menu tersebut, kamu akan dibuat kebingungan serta menebak-nebak kira-kira bumbu apa saja yang digunakan untuk memasak ayam/gurame hingga seenak ini.

Setelah semua menu yang dihidangkan habis dan perutpun terasa kenyang, tapi kok masih ada satu hal lagi yang membuat was-was. Yaitu soal harganya! Bagaimana tidak, makanannya enak, tempatnya yang bersih dan bagus serta pelayanan yang memuaskan, tentu harganya bisa bikin kantong jebol. Oh tidak! Ternyata dugaanku salah, harganya sangat bersahabat kok, yaitu mulai dari Rp10.000-30.000 saja.

Untuk kamu yang kebetulan sedang berkunjung ke Malang atau mungkin baru merencanakan hal tersebut. Jangan lupa datang ke tempat yang satu ini. Tepatnya di Jln. Gajahmada No.4 Malang Kota/Klojen.

Demikian sedikit informasi yang bisa sampaikan, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Pastikan bahwa, semua informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Mencicipi Nikmatnya Es Krim Toko OEN (Old Fashioned Ice Cream in Malang)

Secara perlahan saya langkahkan kaki ke subuah restoran tua. Ketika sampai di depan pintu, tiba-tiba saya mencium aroma ubin tua dan kursi rotan yang begitu menyeruak. Seketika itu juga, mata saya langsung tertuju pada sebuah papan yang bertuliskan.

“Welkom in Malang, Toko OEN die sinds 1930 aan de gasten gezelligheid geeft”

Yang berarti:

“Selamat datang di Malang, Toko OEN adalah tempat untuk berkumpul dan bersosialisasi sejak 1930”

Konon katanya, pada zaman penjajahan dulu, tempai ini merupakan tempat favorit para mevrouw dan meneer Belanda untuk nongkrong sambil menikmati es krim. Atau bisa dibilang tempat nongkrongnya para sosialita zaman dulu.

Sejarah Toko OEN.

satyawinnie.com
satyawinnie.com

Toko yang sudah berdiri sejak tahun 1930 ini tidak pernah absen dari must visit list para wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang, baik itu dari lokal maupun mancanegara. Apalagi turis yang datang dari Belanda, mereka niat banget datang ke sini (Toko OEN) dan terkadang sekeluarga diajak semua, mulai dari kakek-nenek hingga cucu-cucu mereka. Yang katanya untuk bernostalgia dengan semangkuk es krim yang dulu menjadi favorit dari nenek moyang mereka.

Ngomong-ngomong soal es krim ‘OEN’. Ternyata, se krim ini pertama kali diciptakan oleh seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bernama Oma Oen yang pada awalnya membuka toko kue di Yogyakarta, kurang lebih sekitar tahun 1910-an. Baru kemudian, pada tahun 1922 Oma Oen mulai mengembangkan usaha es krim. Tak tanggung-tanggung, Oma Oen langsung membuka beberapa cabang yang tersebar diberbagai kota, diantaranya di Yogyakarta, Jakarta, Semarang dan Malang.

Namun, cabang Jakarta dan Yogya sudah ditutup dan hanya tersisa di Malang dan Semarang. Akan tetapi, yang di Malang ini sudah bukan milik dari keluarga Oma Oen lagi, karena kedai/toko tersebut sudah dijual kepada orang lain. Jadi, tinggal cabang Semaranng yang masih di pegang oleh keluarga Oma Oen.

Semua exterior dan interior yang di Toko OEN ini masih dipertahankan dengan sebagaimana aslinya. Kursi rotan, meja dengan taplak klasik ditambah lagi dengan adanya piano tua disudut ruangan yang semakin menambah aura klasiknya semakin kental. Kita bagaikan dibawa ke masa lalu dengan beberapa penampakan foto klasik Kota Malang tempo dulu, serta foto asli dari bapak Presiden Republik Indonesia yang pertama. Sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu kehidupan orang-orang zaman dulu.

Bukan hanya gaya bangunannya yang tua dan klasik. Tempat ini juga akan menyajikan suasana yang klasik pula, hal tersebut nampak ketika ada pelayanan yang menyambut kedatangan kita dengan mengenakan pakaian putih sambil membawa celemek tua serta buku menu usang yang masih terjaga dan terawat sampai sekarang.

Menu Toko OEN.

se krim oen
soloraya.com

Menu es krim yang disajikan juga sangat beragam, mulai Tropicana Cream, Banana Split, Oen’s Spesial, Corn Ice Cream, Ice Cream Soda, Chocolate Parfait dan masih banyak lagi yang lain dan pastinya lumer di mulut. Selain ice cream, di sini juga menyediakan menu main course seperti nasi goreng, steak dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan juga relatif murah, pokoknya sebanding dengan rasanya.

Jika kamu sedang berkunjung ke Malang, tidak ada salahnya untuk mampir ke sini ‘Toko OEN’. Yang ada di Jln. Jend. Basuki Rachmad No. 5 Malang, Jawa Timur.

Demikian, sedikit informasi yang bisa saya sampaikan mengenai ‘Toko OEN’ dan semoga bisa bermanfaat, khususnya buat kamu yang sedang berkunjung ke Malang. Pastikan bahwa, semua informasi yang kamu dapat seputar Kota Malang, kamu dapatkan dari malang.kotamini.com.

Merasakan Sensasi Bergetar Ketika Makan Bakso President

Siapa coba, yang nggak suka bakso? Makanan yang satu ini memang sangat cocok untuk disantap ketika hujan. Bagaimana nggak mantap coba? Dingin-dingin makan yang anget-anget dan pedes, pas bangetlah pokoknya.

Kalau ngomong soal bakso, ya Kota Malang tempatnya. Hampir di setiap sudut Kota Malang akan kita temui yang namanya bakso, baik itu di kaki lima maupun di pusat perbelanjaan. Tapi, pernah nggak terpikirkan untuk menikmati bakso dipinggir rel Kereta Api?

Kalau belum pernah, kayaknya kamu perlu mencoba makan bakso yang satu ini. “Bakso President” begitulah orang-orang mengenalnya, bakso yang satu ini sudah sangat tersohor akan kelezatannya. Bukan hanya lezat, kita juga akan merasakan sensasi yang sangat luar biasa, yang mungkin tidak bisa kita dapati di tempat lain.

Sejarah Bakso President.

Tadinya saya sempat berpikir, kenapa dinamakan dengan Bakso President? Mungkin, ini bakso merupakan makanan favorit dari salah satu presiden, atau mungkin ada salah seorang presiden yang pernah berkunjung ke tempat ini. Usut punya usut, semua dugaan tersebut ternyata salah. Berdasarkan informasi yang berhasil saya kumpulkan dari narasumber, Bakso President ini ternyata sudah ada sejak tahum 1977 dan didirikan oleh Abah Sugito.

Pada awalnya, Abah Sugito berjualan bakso keliling dengan cara dipikul selama kurang lebih sekitar 5 tahun. Kemudian, sekitar tahun 1982 Abah Sugito mencoba untuk membuat sebuah warung sederhana dengan modal seadanya, beliau membangun warung tersebut tepat di belakang gedung Bioskop President Malang. Begitulah awal mula kenapa dinamakan dengan Bakso President seperti yang kita kenal hingga sekarang ini.

Menu Bakso President.

Tempat ini menawarkan berbagai macam menu bakso, mulai dari bakso biasa, Bakso Urat, Bakso Bakar, Bakso Telor, Bakso Goreng, Bakso Udang dengan tambahan pangsit basah/kering, ati ampela, siomay, lontong, tahu, mie dan lain sebagainya (pokoknya komplit). Oleh karena itu, Bakso President ini dijuluki dengan “Pelopor Bakso Malang Asli Full Variasi”. Perlu kamu tahu juga, bakso di sini dijual per satuan. Jadi, harus kamu perhatikan betul-betul daftar menunya sebelum memesan. Tapi, ada juga yang paketan, seperti paket campur biasa/hemat/komplit/spesial dan lain-lain.

Selain menu baksonya yang beragam kita juga mendapat dua opsi tempat makan, di dalam atau di luar (pinggir rel). Kalau saya sendiri lebih recommended yang di luar, soalnya kita bisa menikmati suasana ketika ada kereta yang melintas, ditambah lagi dengan meja yang bergetar serta kuping yang pengang, tentunya akan menjadi sensasi tersendiri dibandingkan dengan tempat lainnya. Karena harganya yang bersahabat, Bakso President kini menjelma jadi bakso favorit semua kalangan, baik itu yang berkantong pas-pasan ataupun yang berkantong tebal.

Kemarin saya sempat nyobain semua macam bakso yang disediakan di sini. Busyet! Ternyata semuanya enak, jadi pengen lagi dan lagi. Pas nyobain Bakso Bakarnya itu lho campur-campur rasanya, ada manis, renyah dan sedikit agak asin, pokoknya unik banget rasanya. Tapi, yang paling membuat aku berkesan adalah ketika nyobain Bakso Uratnya, yang masih berasa sampai gigitan terakhir.

bakso president
satyawinnie.com

Selain bakso, kita juga bisa mencoba camilan yang masih erat kaitannya dengan bakso. Namanya “keripik Bakso Spesial”, rasanya enak, renyah, gurih dan tentunya nggak beda jauh dengan versi yang berkuah. Keripik Bakso Spesial ini dijual seharga Rp15000/bungkus, cocok banget buat daftar oleh-oleh ketika sedang berkunjung ke Malang. Pokoknya jangan ngaku penggemar bakso kalau belum pernah nyobain bakso yang satu ini, Apa? “Bakso President”.

Lokasi Bakso President.

Terus, di mana itu “Bakso President” berada? Tenang, jika kamu sedang berkunjung ke Malang dan ingin merasakan sensasi makan “Bakso President”, ada dua opsi yang bisa kamu pilih.

1. Jika kamu datang dari arah jalan raya Surabaya-Malang, minta turun di Hotel Savana. Tepat di sebelah hotel tersebut ada sebuah gang kecil, jalan aja terus kira-kira sekitar 200 meter tepatnya sebelah kanan, akan kamu dapati yang namanya “Bakso President”. Perlu diingat, opsi yang pertama ini hanya bisa diakses menggunakan motor, sepeda dan jalan kaki saja.

2. Sebelum Hotel Savana, ada sebuah pertigaan yang diapit oleh SPBU dan Pizza Hut. Jika kamu datang dari arah Surabaya, kamu belok kiri kemudian lurus aja sampai ketemu perempatan, dari perempatan tersebut belok kanan dan lurus terus sampai kamu jumpai sebuah board yang bertuliskan “Bakso President”. Opsi kedua ini bisa kamu akses menggunakan mobil ataupun angkutan umum.

Atau lebih tepatnya di sini:

Bakso President Jln. Batanghari 5, Malang, 65111.

Demikian sedikit informasi mengenai “Bakso President”, semoga bisa bermanfaat dan selamat menikmati liburan di Kota Malang. Pastikan bahwa semua informasi yang kamu dapat seputar Kota Malang, kamu dapatkan dari malang.kotamini.com.

Wisata Sejarah Candi Jago

Masih membahas tentang wisata Kota Malang tentunya, kali ini akan kita berikan sedikit review mengenai sebuah tempat wisata yang dulunya pernah menjadi pusat dari Kerajaan Singosari. Di sini akan kita temui sebuah Candi yang masih mempunyai hubungan erat dengan Kerajaan Singosari, yang di mana menjadi pendarmaan lain dari raja selanjutnya.

Tempat tersebut adalah Candi Jago (Candi Tumpang atau Cungkup). Kata ‘Jago’ sendiri berasal kata ‘Jajaghu’ yang berarti ‘Keagungan’ (divine). Yang dijadikan sebagai tempat suci untuk mensemayamkan seorang raja. Pada zamna dahulu, Candi Jago tidak hanya dianggap sebagai tempat yang sakral dan suci, tapi juga memiliki daya magis yang berpadu dengan manifestasi estetis sebuah simbol yang digunakan untuk menghormati dan mengenang sang raja.

Sejarah Candi Jago.

Dalam sebuah kitab (Negarakertagama) menyebutkan bahwa, Candi Jago adalah tempat yang digunakan untuk mensemayamkan Raja IV Kerajaan Singosari, yaitu Raja Rangga Wuni yang mempunyai gelar Sri Jaya Wisnu Wardhana (1248-1268). Sri Jaya Wisnu Wardhana ini merupakan adik kandung dari Raja Anusapati yang di mana anak dari Tunggul Ametung dan Ken Dedes, atau anak tiri raja pertama Sri Ranggah Rajasa.

Karena fungsinya sebagai tempat pendermaan dari sang raja, Candi Jago juga menunjukkan wujud serta karakter dari seorang raja yang gagah. Jika dilihat dari relief-relief yang ada, Candi Jago termasuk dalam Candi yang bercorak Siwa-Budha (percampuran Hindu-Budha pada Dibasti Singosari) dan sesuai dengan aliran sang raja. Diperkirakan Candi ini dibangun sekitar tahun 1280 Masehi, dan mungkin juga sempat mengalami renovasi pada masa pemerintahan Raja Adityawarman di era Majapahit sesudahnya.

Seperti halnya dengan Candi-candi pada umumnya, Candi Jago mempunyai denah berbentuk persegi panjang dengan teras yang di mana setiap masing-masing teras mempunyai selasar dan semakin mengerucut pada bagian atasnya dan terdapat teras bagian belakang (pertanda sebagai bagian paling suci dengan tempat tertinggi). Jika dilihat dengan seksama, Candi Jago mirip dengan punden berundak zaman megalitikum yang menandakan sebagai tempat pemujaan serta memiliki nilai sakralitas dan sama halnya dengan Candi Kidal dan Candi Brahu yang kurang lebih juga memiliki fungsi yang sama.

Candi Jago sendiri ditemukan sekitar tahun 1834 oleh pemerintahan Belanda yang ketika itu kondisi Candi dalam keadaan yang rusak akibat akar beringin besar yang tumbuh di sekitar Candi. Kemudian, sekitar tahun 1890, Candi Jago mengalami pemugaran dan baru selesai sekitar tahun 1908 dengan bentuk seperti yang kita kenal saat ini. Namun, bentuk yang sekarang ini belumlah sempurna dan khususnya pada bagian atas Candi, karena bagian-bagian belum ditemukan, sehingga susah untuk direkontruksi.

Kisah dibalik Candi Jago.

Hampir seluruh bagian badan dari Candi Jago terdapat relief yang mengisahkan tentang perjalanan spiritual manusia. Candi Jago ini mengahadap ke Barat, oleh karena itu untuk bisa memahami arti dari relief tersebut, kita harus memulai perjalanan dari Barat atau berlawanan dengan arah jarum jam dan melingkar seperti simbol Chukurei (Reiki) atau yang lebih dikenal dengan spiral dan menuju pada bagian teras atas yang mengerucut.

Kisah perjalanan dari relief tersebut terbagi menjadi dua karakter, yaitu Hindu dan Budha. Yang di mana mengisahkan tentang Parthayajna, Kalayawana dan Arjunawiwaha (Hindu) serta Anglingdharma, Pancatantra, dan Kunjarakarna (Budha).

Pada bagian teras yang pertama diawali dengan cerita binatang (Parthayajna) yang di mana bisa kita baca melalui sebuah relief kura-kura terbang sambil menggigit tongkat yang dibawa oleh seekor burung Bangau, kemudian kura-kura tersebut terjatuh karena kesombongan serta perlawananya pada hakikat hidupnya yang harusnya berada di daratan dan perairan bukannya di langit, yang kemudian dimangsa oleh seekor Serigala.

Berikutnya adalah kisah tentang Arjunawiwaha yang menceritakan tentang Anglingdharma yang melihat percumbuan antara Naga Gini dengan Ular Tampar. Kemudian Anglingdharma mendapatkan Aji Geneng (untuk berbicara dengan binatang) yang ia peroleh dari Naga Raja (suami Naga Gini). Tetapi dengan syarat ia tidak boleh mengajarkannya kepada siapapun, termasuk permaisurinya sendiri. Namun, pada suatu hari permaisuri Anglingdharma membujuk dan bahkan mengancam untuk minta diajarkan ajian tersebut, yang akhirnya membuat dirinya mati terkabar karena perkataannya sendiri. Dari sini bisa kita ambil pelajaran tentang, kemarahan, perselingkuhan, fitnah, pengkhianatan, kebohongan, kejujuran, kelicikan serta amanah.

Masih di bagian teras pertama, tertulis sebuah relief Kunjarakarna yang mengisahkan tentang perjalanan dari Kunjarakarna (murid setia dari Wirawacana/Dewa Budha). Tentang perjalanannya dalam mendapatkan pencerahan mengenai hakikat hidup yang sebenarnya.

Pada bagian teras yang kedua, terdapat relief Parthayajna yang diawali dengan adegan para Pandawa yang kalah dalam permainan dadu dengan saudaranya (Kurawa) dengan hukuman 13 tahun pengasingan (namun ada yang menyebutnya 15 tahun) di dalam hutan. Selama masa hukuman tersebut, Arjuna memilih untuk berpisah untuk sementara dengan saudaranya yang lain dan memulai perjalanan spiritual (bertapa) di Gunung Indrakila.

Pada bagian teras yang ketiga, mengisahkan tentang Arjunawiwaha setelah ia selesai menyelesaikan pertapaanya di Gunung Indrakila dan mendapatkan sebuah pusaka serta perintah untuk membunuh raksasa yang bernama Niwatakawaca yang ia peroleh dari Dewa Siwa.

Sekilas, relief-relief yang terdapat pada dinding-dinding Candi mempunyai ciri visual yang sangat khas dan mirip dengan wayang, serta unsur Hindu-Budha yang menyatu dengan begitu kentalnya. Tepat di bagian depan Candi, terdapat sebuah bentuk yang diduga sebagai Stupa yang sekarang hanya menyisakan bagian bawah yang bermotif teratai. Sedangkan, di bagian Kanan terdapat Arca Amoghapasa bertangan delapan (tanpa kepala) serta kala yang hanya menyisakan bagian kepalanya saja.

Akses menuju Candi Jago.

sejarahbudayanusantara.weebly.com
sejarahbudayanusantara.weebly.com

Oh iya, saya sampai lupa! Candi Jago ini terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Kurang lebih sekitar 22 kilometer dari Kota Malang dan sekitar 8 kilometer dari Candi Kidal atau lebih tepatnya 200 meter dari pasar Tumpang. Tidak ada tarif standar yang ditentukan untuk masuk ke Candi Jago ini atau seikhlasnya saja. Candi Jago ini, sampai sekarang masih dianggap sebagai tempat sakral oleh mereka yang masih memeluk agama Hindu-Budha, jadi kita harus bersikap sopan dan tidak membuang sembarangan (berlaku juga di tempat wisata yang lain tanpa terkecuali). Meskipun tidak ada larangan untuk naik ke bagian atas Candi, tapi sangat disarankan untuk tidak melakukanya. Hal tersebut dikarenakan tangganya yang sempit dan curam, serta bangunan Candi yang sudah rapuh sangat riskan untuk terjatuh.

Demikian sedikit informasi mengenai wisata sejarah Candi Jago yang bisa saya sampaikan, semoga bisa bermanfaat, khususnya buat kamu yang ingin berkunjung kesini. Pastikan bahwa semua informasi yang kamu dapat seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Fakta Menarik Tentang Candi Kidal

Selain banyak terdapat wisata alam, Malang juga mempunyai destinasi wisata budaya dan sejarah yang sayang untuk dilewatkan. Banyak sekali situs peninggalan sejarah yang bisa kita temui di Kota Apel ini, dan salah satunya adalah Candi Kidal.

Mungkin nama itu cukup asing di telinga kita! Ya wajar saja, karena hanya ada beberapa orang saja yang mengenal Candi Kidal ini yang berbanding hampir 180 derajat dengan Candi Singosari yang sudah sangat terkenal kemana-mana. Padahal Candi Kidal ini tidak kalah menarik dan bisa kita jadikan sebagai pilihan tujuan wisata yang sangat menyenangkan, khususnya buat kamu yang suka dengan wisata sejarah dan budaya.

Lokasi Candi Kidal.

Candi Kidal ini berada di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau kurang lebih sekitar 20 kilometer ke arah Timur dari Kota Malang. Konon katanya, situs ini dibangun ketika masa peralihan kekuasaan Kerajaan Airlangga ke Kerajaan Kediri (Pertengahan Abad ke-12). Dan ternyata, Candi ini merupakan Candi pemujaan tertua di Jawa Timur.

Candi Kidal ini dibangun sekitar tahun 1248 Masehi, setelah diadakannya upacara pemakaman “Cradha” untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singosari. Tujuan dari dibangunnya Candi ini adalah untuk mendarmakan Raja Anusapati, supaya sang raja mendapatkan kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Sealin itu, ada hal menarik lain mengenai Candi Kidal ini, yaitu adanya relief kisah Garuda yang dipahat dengan sangat lengkap dibandingkan dengan Candi-candi lain yang ada di Jawa.

Kisah Candi Kidal.

Relief kisah Garuda yang terukir di situs bersejarah ini merupakan hasil duplikasi yang terdapat pada serat Jawa Kuno tentang Garudheya. Masyarakat Jawa Kuno, terutama yang terpengaruh oleh Hinduisme percaya dan meyakini cerita ini. Mitos Garudheya menceritakan tentang kisah perjuangan seekor burung Garuda yang berhasil menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang ditebusnya dengan air suci amerta (air kehidupan).

Konon katanya, relief Garudheya tersebut dibuat atas dasar amanat dari Raja Anusapati yang ingin meruwat ibunya (Ken Dedes) yang sangat dia sayangi. Relief mitos Garudheya ini dibuat dengan sangat lengkap diseputar kaki Candi. Jika kamu berminat untuk bisa membaca relief tersebut, kamu harus menguasai teknik Prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam) yang bermula dari sisi bagian Selatan.

Pada relief yang pertama menggambarkan tentang seekor burung Garuda yang sedang menggendong 3 ular besar, relief kedua menggambarkan seekor burung Garuda yang membawa kendi di atas kepalanya, sedangkan pada relief yang ketiga menggambarkan seekor burung Garuda yang mengggendong seorang wanita. Dari ketiga relief tersebut, hanya relief kedua yang kelihatan masih utuh dan paling bagus dibandingkan dengan dua relief lainnya.

Nama dari Candi Kidal ini sendiri ternyata diambil dari keunikan reliefya, yang di mana berbeda dengan Candi-candi lainya yang biasanya menulis relief searah dengan jarum jam. Namun, tidak dengan Candi Kidal ini, justru reliefnya dibuat berlawanan dengan arah jarum jam. Oleh karena itu, Candi ini dinamakan dengan Candi Kidal, yang di mana kidal itu berarti kiri.

Secara keseluruhan bangunan Candi ini terbuat dari batu Andesit dengan dimensi geometris vertikal. Badan dari Candi ini berdiri pada batur (kaki Candi) setinggi kurang lebih 2 meter. Untuk menuju ke selasar di lantai kaki Candi, ada sebuah tangga batu yang tepat berada di depan pintu. Uniknya, tangga tersebut dibuat dengan tipis sehingga dari kejauhan tidak nampak seperti tangga masuk. Selain itu, tangga batu ini juga tidak dilengkapi dengan pipi tangga yang berbentuk ukel seperti yang terdapat pada Candi-candi lain. Akan tetapi, di kanan dan kiri anak tangga yang pertama terdapat Badug (tembok rendah) yang berbentuk siku dan menutupi samping serta sebagian sesi depan kaki tangga yang tidak bisa kita jumpai pada Candi-candi lain.

Pintu dari Candi Kidal ini menghadap ke arah Barat dan dilengkapi dengan bilik penampil yang dihiasi dengan Kalamakara (Kepala Kala) di atas ambangnya. Hiasan Kalamakara tersebut nampak sangat menyeramkan dengan mata yang melotot, mulut terbuka, serta terdapat dua taring besar dan bengkok yang memberikan kesan dominan. Ditambah lagi, pada sudut kanan dan kiri terdapat jari tangan yang mudra (sikap) mengancam yang membuat patung ini semakin sempurna seramnya. Di kanan dan kiri pintu masuk juga terdapat relung kecil untuk meletakkan arca yang lengkap dengan bentuk “atap” di atasnya, di atas ambang dari relung-relung tersebut juga bisa kita jumpai Kalamakara.

Keunikan lain dari Candi yang mempunyai luas sekitar 35 meter persegi ini terdapat pada atapnya. Atap dari Candi Kidal ini berbentuk kotak yang bersusun tiga (makin ke atas makin mengecil). Selain itu, puncaknya juga tumpul atau berbentuk persegi datar yang cukup luas dan tidak didapati Stupa di sana. Konon katanya, pada zaman dulu pada setiap sudut lapisan atap Candi dipasangi dengan berlian kecil.

Pada bagian dinding dan sekeliling kaki Candi juga terdapat pahatan yang bermotif Medalion berjajar yang diselingi dengan motif bunga dan sulur-suluran. Di bagian kanan dan kiri pangkal tangga dan juga setiap sudut yang menonjol keluar akan kita dapati patung binatang yang mirip dengan Singa duduk. Patung-patung tersebut terlihat sedang menyangga pelipit atas kaki Candi yang menonjol keluar dari selasar. Jika kita menelusuri setiap relief yang ada pada Candi ini dengan seksama, akan terlihat betapa megah dan indahnya salah satu Candi peninggalan Kerajaan Singosari ini.

Akses menuju Candi Kidal.

safrinadewi.wordpress.com
safrinadewi.wordpress.com

Oh ya, sampai lupa! Jika kamu ingin berkunjung ke wisata sejarah Candi Kidal ini, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua atau empat serta angkutan umum juga. Kamu hanya perlu menuju ke arah Tumpang dan ikuti petunjuk jalan yang ada. Jika kamu ingin menggunakan angkutan umum, kamu harus men-carter dulu angkutan tersebut, agar bersedia untuk mengantarkan kamu sampai ke tempat tujuan. Wisata sejarah Candi Kidal ini mulai buka pukul 07:00-17:00 (WIB), sedangkan untuk tiket masuknya sendiri pihak pengelola belum menerapkan tarif yang pasti dan sebatas sukarela dari pengnjung.

Demikian sedikit informasi mengenai wisata sejarah Candi Kidal, dan semoga bisa bermanfaat. Pastikan bahawa informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Menilik Kemegahan Candi Singosari

Jika kamu termasuk seseorang yang pecinta akan budaya dan sejarah, tentulah tahu salah satu kerajaan yang paling tersohor di Jawa Timur? Ya benar, kerajaan Singhasari, atau yang sering ditulis dengan Singasari/Singosari. Dinasti Singosari sendiri merupakan keturunan dari Ken Dedes dengan dua suaminya, yaitu Ken Arok dan Tunggul Ametung. Sejarah dari kerajaan ini melahirkan sebuah legenda tentang keris Mpu Gandring yang terkenal, khususnya oleh masyarakat Jawa Timur.

Selain itu, kerajaan yang pernah berjaya pada zamannya ini tidak hanya meninggalkan cerita dan nilai-nilai sejarah semata, tetapi juga meninggalkan bekas bangunan bersejarah yang masih kokoh berdiri sampai saat ini. Peninggalan tersebut adalah Candi Singosari.

Apa itu Candi Singosari?

Candi Singosari (Singhasari) merupakan salah satu Candi bersejarah yang ada di Desa Candirenggo, Singosari, sekitar 10 km dari pusat Kota Malang yang terletak di antara Gunung Arjuno dan Pegunungan Tengger dan berada pada ketinggian 512 meter di atas permukaan laut.

Komplek percandian ini menempati area kurang lebih sekitar 200×400 meter yang terdiri dari beberapa macam Candi. Candi ini merupakan Candi peninggalan dari kerajaan Singosari (Singhasari) yang bergaya Hindu-Budha yang ditemukan sekitar abad ke-18 atau 1800-1850 Masehi. Para ahli Purbakala memperkirakan Candi Singosari ini dibangun sekitar abad ke-13 sebagai sebuah simbol penghormatan kepada Raja Kertanegara dari Kerajaan Singosari.

Di mana bangunan dari Candi Singosari ini berada di tengah halaman dan berdiri pada sebuah batur kaki dengan tinggi sekitar 1,5 meter yang tidak ada hiasan/relief. Tangga naik menuju ke selasar di kaki Candi juga tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan Makara seperti yang ada pada Candi-candi lainnya. Pintu masuk untuk menuju ke tengah ruangan berada di tengah Candi yang menghadap ke Selatan, terletak di sisi depan bilik penampil (bilik kecil menjorok ke depan). Pintu masuk ini juga nampak sangat sederhana tanpa hiasan/relief. Selain itu, di atas ambang pintu juga terdapat pahatan kepala Kala yang sangat sederhana juga pahatannya.

Pada bagian Kanan dan Kiri bilik pintu, terdapat sebuah relung untuk menempatkan Arca tanpa bingkai dan juga kepala Kala. relung yang serupa juga ada pada ketiga sisi yang lainnya, tetapi dengan ukuran yang lebih besar yang lengkap dengan hiasan kepala Kala di atas ambang.

Candi Singosari ini bisa dikatakan sangat unik. Bagaimana tidak, jika dilihat sepintas bangunannya terlihat sepeti dua bersusun dua, karena bagian bawah dari atap Candi yang berbentuk persegi dan terlihat seperti ruangan kecil dengan relung yang ada di masing-masing sisinya. Kelihatanya relung-relung tersebut dulu berisi Arca, tetapi sekarang sudah dalam keadaan kosong. Pada setiap ambang relung didapati hiasan kepala Kala dengan pahatan yang cukup rumit. Bentuk atapnya bersusun seperti Pagoda, tetapi sebagian puncak atap tersebut sudah runtuh.

Situs bersejarah ini dulunya pernah dipugar, tepatnya pada masa pemerintahan Belanda atau sekitar tahun 1930-an. Tetapi pemugaran tersebut belum bisa menyeluruh, hal tersebut nampak di sekeliling halaman Candi yang masih banyak berjajar tumpukan batu yang belem sempat dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Di sini juga ada beberapa Arca yang sebagian besar sudah dalam kondisi rusak atau yang belum selesai dibuat, diantaranya ada Arca Lembu Nandini, Durga dan juga Arca Syiwa dengan berbagai ukuran dan posisi.

Kurang lebih sekitar 300 meter ke arah Barat dari Candi Singosari akan kita temuai dua buah Arca Dwarapala (Raksasa penjaga gerbang) dengan ukuran yang sangat besar. Diperkirakan, berat dari masing-masing Arca tersebut mencapai 40 ton dengan ketinggian 3,7 meter dan lingkar tubuh yang mencapai 3,8 meter. Jarak antara kedua patung tersebut kurang lebih sekitar 20 meter yang sekarang dipisahkan oleh jalan raya. Diperkirakan Arca tersebut merupakan penjaga pintu gerbang dari istana Raja Kertanegara (1268-1292) yang terletak di sebelah Barat kedua patung tersebut.

Akses menuju Candi Singosari.

nisamufti.blogspot.com
nisamufti.blogspot.com

Untuk bisa sampai ke Candi Singosari, kita bisa mengaksenya dengan menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat, atau bisa juga menggunakan angkutan umum. Dari pusat Kota Malang, Arhkan kendaraan menuju ke jalur Malang-Surabaya hingga sampai di Pasar Singosari. Tidak jauh dari pasar tersebut, atau kira-kira sekitar 500 meter ke arah Utara pasar akan kita dapati tempat wisata ini. Karena letaknya yang cukup strategis, yaitu pada jalan poros Surabaya-Malang sehingga akan sangat mudah kita jumpai angkutan umum yang lewat Singosari. Tentunya hal tersebut akan sangat memudahkan kita yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Untuk biaya masuk ke Candi ini juga sangat murah, yaitu sekitar Rp5000 untuk /orang dewasa dan sekitar Rp3500 /anak. Selain bisa berlibur bersama keluarga, kita juga bisa sambil belajar mengenai sejarah pada zaman dulu.

Demikian sedikit informasi mengenai wisata sejarah Candi Singosari. Pastikan bahwa semua informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Coban Pelangi, Secuwil Keindahan Daerah Konservasi

Berwisata ke alam terbuka tentu akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik di sela-sela kesibukan sehari-hari. Selain berkunjung ke taman atau pantai, berkunjung ke wisata air terjun juga bisa menjadi salah satu destinasi yang sangat tepat untuk kita masukkan ke dalam daftar tujuan liburan kita bersama keluarga. Ngomong-ngomong soal tujuan wisata, saya rasa Kota Malang merupakan salah satu yang paling recomended untuk dikunjungi. Bagaimana tidak, di Kota Malang banyak terdapat tempat liburan dengan nuansa alam yang masih alami, seperti halnya wisata air terjun dan salah satunya adalah air terjun Coban Pelangi.

Coban Pelangi ini terletak di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tepatnya sekitar 2 kilometer dari Desa Gubugklakah atau kurang lebih 32 kilometer sebelah timur Kota Malang. Yang secara administratif masuk dalam daerah konservasi Perum Perhutani KPH Malang yang dikelilingi dengan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) dan berada pada ketinggian 1299,5 meter di atas permukaan laut, tepatnya di bawah kaki Gunung Semeru dengan suhu berkisar antara 19-23 derajat Celcius.

Akses menuju Coban Pelangi.

Jika kita ingin berkunjung ke tempat ini, sangat disarankan untuk datang di sana waktu pagi hari. Karena, saat pagi hari kita bisa menikmati sejuknya udara pegunungan dengan kabut lembut yag sayang untuk dilewatkan. Dan perlu diingat juga, ketika musim penghujan wana wisata air terjun Coban Pelangi ini hanya dibuka sampai jam 16:00 saja (pukul 4 sore). Hal ini dikarenakan untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi ketika ada air bah yang datang dari hulu pegunungan.

Suasana sekitar Coban Pelangi ini bisa dikatakan sangat sejuk. Dengan suhu udara yang sangat dingin ditambah lagi dengan suara guyuran air yang jatuh dari atas tebing dengan ketinggian kurang lebih sekitar 110 meter akan membuat pikiran kita menjadi fresh. Selain itu, kita juga akan disuguhi dengan kilauan bias warna pelangi yang timbul dari percikan air yang terkena bias sinar matahari. Karena itulah air terjun ini dinamakan Coban Pelangi (Air Terjun pelangi).

Akses jalan menuju Coban Pelangi juga sudah baik dan beraspal dengan tipikal jalan yang terus menanjak. Apalagi setelah memasuki Desa Gubugklakah, jalanan malah semakin menanjak dan ditambah lagi dengan jalanan yang berkelok-kelok dan sempit. Jadi, kita harus ekstra hati-hati apalagi dan jangan ngebut, karena ruas jalan di sini hanya cukup untuk dilewati 1 kendaraan roda empat dan 1 kendaraan roda dua saja. Terlaepas dari semua itu, sepanjang perjalanan kita menuju ke Coban Pelangi, kita akan dimanjakan dengan panorama alam yang sangat indah sekali (Subhanallah).

Area wisata Coban Pelangi.

surabaya.panduanwisata.id
surabaya.panduanwisata.id

Setelah sampai di pintu masuk wana wisata Coban Pelangi kita bisa memarkir kendaraan kita dan melanjutkannya dengan berjalan kaki, kurang lebih sekitar 1 km dengan kondisi jalanan terjal menurun. Sebelumnya, untuk bisa masuk kita harus membeli tiket dulu, dengan harga sekitar Rp10.000/orang. Walaupun kita harus berjalan cukup jauh dan pastinya juga dibutuhkan stamina yang prima. Namun, semua itu akan terbayar tuntas dengan pemandangan yang akan kita lihat disepanjang perjalanan, (subhanallah) sangat indah sekali. Selain itu, disepanjang jalan juga banyak kita temui tempat peristirahatan serta warung-warung yang menyediakan aneka macam makanan dan minuman.

Sekitar separuh perjalanan yang kita lewati, akan banyak kita temui area camping yang berada di sisi kanan jalan, namun lokasi camping tersebut tidak terlalu luas dan hanya bisa menampung beberapa tenda saja. Jika tujuan kita datang ke sini untuk ber-camping, kita akan dikenakan tiket masuk yang berbeda dari pengunjung biasanya dengan tambahan fasilitas kamar mandi dan toilet, selebihnya hanya area camping saja.

Masih disekitar area camping, kita akan mendapati pangkalan kuda (Nunggang Jaran = Naik Kuda). Nunggang jaran merupakan fasilitas yang bisa kita gunakan sebagai alternatif untuk mencapai pintu masuk (ketika perjalanan pulang). Kuda tersebut memang khusus disediakan untuk melayani para pengunjung yang ingin merasakan sensasi berkuda atau karena sudah kelelahan setelah melakukan perjalanan yang menguras tenaga. Untuk bisa menggunakan fasilitas nunggang jaran, kita harus membayar sekitar Rp10.000 saja.

Setelah kita melewati area camping, kita akan dihadapkan dengan medan menurun yang lumayan curam dan berakhir pada sebuah jembatan bambu. Jembatan bambu ini dikenal dengan nama jembatan cinta, entah kenapa jembatan ini dinamakan demikian. Tapi menurut informasi yang saya peroleh, hal tersebut dikarenakan banyaknya muda-mudi yang bergandengan tangan ketika menyeberangi jembatan ini. Wajar saja, karena jembatan ini hanya bisa dilewati dua orang saja. Tak jarang juga jembatan ini dijadikan sebagai spot foto favorit para pengunjung. Hal tersebut dikarenakan bentuknya yang unik dan klasik, ditambah lagi dengan namanya yang cukup menggelitik.

Selepas dari jembatan cinta, sudah bisa kita dengar sayup-sayup gemuruh air terjun. Hal tersebut menandakan bahwa kita sudah semakin dengan air terjun Coban Pelangi, kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja dari jembatan cinta, kita akan sampai ke tempat tujuan.

Tak terasa langkah kaki akan semakin cepat, tak sabar ingin segera menyaksikan keindahan Coban Pelangi yang sangat fenomenal tersebut. Hanya perlu melewati sedikit jalanan yang menanjak, sudah bisa kita lihat air tejun Coban Pelangi nan eksotis tersebut. Ketika sudah mendekati air terjun kita harus berhati-hati, karena kita akan melewati bebatuan yang licin serta adanya beberapa titik longsor yang setiap saat bisa mengancam keselamatan, terutama ketika musim penghujan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata air terjun Coban Pelangi, semoga informasi ini bisa bermanfaat. Pasatikan bahwa, semua informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Mitos dan Pesona Coban Rondo yang Tak Terpisahkan

Coban Rondo merupakan salah satu wisata air terjun yang berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang secara administratif masuk dalam wilayah KPH Perhutani Malang Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon serta Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.

Air terjun Coban Rondo ini berada pada ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut dan mempunyai ketinggian kurang lebih sekitar 84 meter. Ketika musim hujan debit airnya bisa mencapai 150 liter/detik, sedangkan pada musim kemarau mencapai 90 liter/detik yang berasal dari Cemoro Dudo dan lereng Gunung Kawi. Di kawasan ini rata-rata memiliki curah hujan sekitar 1.721 mm/th pada bulan basah (November-Maret) serta bulan kering (April-Oktober) dengan rata-rata suhu sekitar 22 derajat celcius.

Uniknya air tersebut ternyata tidak mengalir langsung dari Cemoro Dudo dan Lereng Gunung Kawi ke Coban Rondo, melainkan melewati dua air terjun kembar terlebih dahulu. Air terjun tersebut adalah air terjun Coban Manten yang menjadi satu dengan air terjun Coban Dudo. Dari Coban Dudo baru kemudian ke Coban Rondo yang kita kenal saat ini. Jika kita ingin melihat air terjun Coban Manten yang berada di Kepundan kita membutuhkan ekstra tenaga serta ekstra hati-hati, karena jaraknya yang lumayan jauh, yaitu sekitar 3-4 km dengan medan yang cukup licin.

Kisah dibalik keindahan Coban Rondo.

yudasmoro.net
yudasmoro.net

Selain beberapa hal di atas. Ternyata, Coban Rondo juga memiliki legenda yang sangat unik, yang dikisahkan di mana ada sepasang pengantin yang baru melaksanakan pernikahan. Pengantin wanitanya bernama Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi, sedangkan pengantin prianya bernama Raden Baron Kusumo yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Singkat cerita, usia pernikahan mereka sudah menginjak 36 hari (selapan dalam istilah orang Jawa) sang istri (Dewi Anjarwati) mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro yang merupakan tempat asal dari Raden Baron Kusumo (sang suami). Tetapi, hal tersebut dilarang oleh kedua orang tua Dewi Anjarwati, mengingat usia pernikahan mereka yang baru 36 hari (Menurut kepercayaan orang Jawa, pengantin baru tidak boleh keluar selama masih dalam usia selapan).

Namun, keduanya tidak mempedulikan hal tersebut dan tetap bersikeras untuk melanjutkan niatnya dengan segala resiko yang akan terjadi nanti. Singkat cerita, ketika di tengah perjalanan mereka menuju ke Gunung Anjasmoro, mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Joko Lelono yang tidak diketahui asal-usulnya. Dalam kisah tersebut dikatakan bahwa Joko Lelono jatuh cinta kepada Dewi Anjarwati dan berusaha untuk merebutnya dari tangan Raden Baron Kusumo. Namun, Raden Baron Kusumo tidak terima begitu saja. Akhirnya, perkelahian diantara keduanya tidak terelakan lagi. Raden Baron Kusumo berpesan kepada para prajuritnya untuk membawa istrinya ke suatu tempat yang ada air terjunnya (Coban). Perkelahian antara keduanya pun berlangsung sangat sengit dan menyebabkan mereka berdua meninggal. Sejak saat itu Dewi Anjarwati menjadi janda (rondo), sehingga air terjun di mana tempat Dewi Anjarwati bersembunyi dinamakan dengan Coban Rondo (air terjun janda). Konon katanya, di bawah air terjun tersebut terdapat sebuah gua yang menjadi tempat persembunyian Dewi Anjarwati serta batu besar yang ada di bawah terjun dipercaya sebagai tempat duduk Dewi Anjarwati ketika sedang merenungi nasibnya.

Terlepas dari legenda Coban Rondo yang memilukan tidak membuat pesona keindahannya menjadi turun pamor, melainkan semakin rame dikunjungi oleh para wisatawan baik dari lokal maupun mancanegara. Keindahan alam yang ada disekitar Coban Rondo memang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga tak jarang tempat ini dijadikan sebagai setingan latar sebuah film ataupun pembuatan video klip serta sebagai obyek fotografi.

Jalur menuju Coban Rondo.

Selain itu, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari pusat kota. Kira-kra hanya sekitar 12 km dari Kota Batu atau kurang lebih 24 km dari Kota Malang yang bisa dotempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Akses untuk menuju ke sana juga sangat mudah serta didukung dengan jalanan yang sudah beraspal. Jika kamu datang dari jalan raya arah Batu – Pujon, Malang, setelah melewati tanjakan yang cukup landai dengan jalan yang berkelok-kelok, maka kamu sudah dekat dengan area puncak perbukitan tempat wisata Coban Rondo. Di sana akan kamu temui sebuah papan nama berukuran besar yang akan memberikan petunjuk ke arah wana wisata Coban Rondo (belok kiri keluar dari jalan raya).

Setelah itu kita akan menemui sebuah patung sapi, dari situ kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi, kurang lebih sekitar 4 km. Di dua kilometer sebelum kita masuk ke kawasan, kita akan menjumpai sebuah papan nama yang bertuliskan “Welcome to Wana Wisata Coban Rondo”. Di sini kita akan memasuki area hutan dengan jalanan menurun dan pastinya dengan udara yang sangat sejuk. Di sekitar hutan akan banyak kita lihat gubug-gubug para pedagang serta kendaraan yang berjejer. Setelah itu, kita akan melewati sebuah tanjakan dan kurang dari dua menit kita akan sampai di tempat tujuan.

Jika kamu menggunakan angkutan umum, kamu bisa naik bis jurusan Surabaya – Malang, setelah sampai di terminal Arjosari, naiklah bemo jurusan Landungsari. Kemudian lanjutkan lagi dengan naik bis jurusan Kediri via Pujon (yang lewat Pujon) dan turun di patung sapi, yang merupakan pintu gerbang menuju Coban Rondo. Dari patung sapi banyak tukang ojek yang siap untuk mengantar kamu ke tempat tujuan.

Demikian sedikit informasi mengenai wana wisata Coban Rondo dan semoga liburanmu menyenangkan. Pastikan bahwa informasi yang kamu peroleh seputar Kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.

Pesona Pantai Ngliyep yang Masih Tersembunyi

Pantai Ngliyep merupakan salah satu pantai yang berada di pesisir Pantai Selatan dan terletak di tepi Samudera Hindia yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, atau sekitar 62 kilo meter ke arah selatan dari Kota Malang.

Luas area wisata ini kurang lebih sekitar 10 hektar yang terdiri dari area wisata, hutan lindung, lahan parkir dan juga penginapan. Masalah fasilitas bisa dibilang sudah lengkap lah pokoknya. Dulu, Pantai Ngliyep merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di Jawa Timur bahkan jauh sebelum dikenalnya Pantai Balekambang dan Pantai Sendangbiru.

Kurangnya pengelolaan tempat wisata serta sengketa yang terjadi antara Pemerintah Daerah dan Perum Perhutani setempat, al hasil popularitas dari Pantai Ngliyep pun semakin terpuruk.

Keindahan Pantai Ngliyep.

Terlepas dari semua itu, memang tidak usah diragukan lagi akan panorama keindahan yang disuguhkan oleh pantai ini. Bagaimana tidak, pantai ini mempunyai hamparan pasir putih yang sangat luas dan lembut, terdapat area bermain yang luas dengan berbagai macam pepohonan rindang serta alunan ombaknya yang bisa membuat siapapun merasa ingin tertidur. Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing curam serta hamparan hutan tropis yang selalu siap untuk memanjakan mata kita. Di sini juga terdapat sebuah pulau kecil yang dikenal dengan nama Gunung Kombang yang sering dijadikan sebagai tempat ritual untuk nyi roro kidul.

Tak jauh dari sini (Pantai Ngliyep) juga terdapat sebuah teluk dengan pemandangan yang sangat indah, yang dikenal dengan nama Teluk Putri. Dinamakan demikian, karena teluk ini dilapisi oleh pasir putih kurang lebih setebal 40 cm yang sangat bersih dan lembut, yang disebut-sebut mirip dengan kulit putri. Walaupun pasir tersebut tidak luas atau hanya 100 meter persegi saja, tetapi sangat nyaman untuk menyepi (menyendiri). Untuk menuju ke sana (Teluk Putri) kita hanya perlu berjalan kaki ke sisi kiri dengan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Tapi sesampainya di Teluk Putri kita harus berhati-hati, karena terkadang ada gelombang besar yang menyapu teluk ini. Oleh karena itu, pengunjung dilarang untuk mendekat ke bibir pantai dan hanya boleh berada di area pasir putih saja.

Uniknya, setiap tanggal 14 bulan Maulud (Rabiul Awal) pantai ini akan semakin ramai. Bukan oleh pengunjung, tapi oleh para warga sekitar yang mengadakan acara Labuhan yang sudah turun-temurun sejak zamannya Mbah Atun (Orang yang dipercaya sebagai penemu Ngliyep, tahun 1919). Labuhan sendiri merupakan acara adat masyarakat Jawa (pesisir) berupa selamatan yang biasanya disertai dengan acara menyembelih Kambing atau Sapi yang nantinya akan dibagi-bagikan kepada warga sekitar, serta dilarung atau dihanyutkan ke laut. Selain itu, warga sekitar juga membawa beraneka ragam sesaji dan diiringi dengan kesenian Jaranan serta pengawal yang memakai pakaian adat untuk mengarak sesaji tersebut ke Gunung Kombang yang berjarak sekitar 300 meter dari pesanggrahan Pantai Ngliyep.

Jalur menuju Pantai Ngliyep.

eastjavabeauty.blogspot.com
eastjavabeauty.blogspot.com

Akses untuk mencapai ke Pantai Ngliyep juga sangat mudah dan nyaman pastinya, karena jalanannya yang sudah bagus dan beraspal sejak tahun 1980. Kita bisa menempuhnya dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun naik mikrolet jalur GN1 dengan jalur Gadang-Ngliyep melewati Donomulyo atau jalur GN2 dengan jalur Gadang-Ngliyep melewati Sumbermanjing Kulon atau yang lebih dikenal dengan Kecamatan Pagak.

Untuk bisa masuk ke sini (Pantai Ngliyep) kita akan dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp5000/orang serta biaya parkir Rp5000/mobil. Ingat, selalu jaga kebersihan pantai agar anak cucu kita juga bisa menikmatinya dan bukan hanya mendengar kisahnya saja, atau yang lebih parahnya lagi anak cucu kita tidak tahu apa itu kepiting.

Demikian sedikit informasi mengenai Pantai Ngliyep yang ada di Malang, Jawa Timur. Pastikan semua info yang kamu peroleh seputar Kota Malang bersumber dari malang.kotamini.com.

Pantai Balekambang, Tanah Lot-nya Pulau Jawa

Jika kamu perhatikan foto di atas, mungkin hal pertama yang terpikirkan adalah Tanah Lot yang ada di Bali. Tapi sayangnya kurang tepat, foto di atas adalah panorama sunset di pantai Balekambang. Sekilas memang hampir sama dengan Tanah Lot di Bali dengan adanya Pura di atas pulau Karang.

Pantai Balekambang sendiri merupakan sebuah pantai yang berada di pesisir selatan pulau Jawa, yang secara administratif masuk dalam wilayah dusun Sumber Jambe, Srigonco, Bantur, Malang, Jawa Timur. Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata andalan kabupaten Malang sejak tahun 1985-sekarang.

Pesona pantai Balekambang memang tak usah diragukan lagi, suasananya yang masih asri serta kebersihannya yang selalu terjaga, merupakan nilai tambah tersendiri yang semakin meyakinkan kita untuk datang mengunjunginya.

Garis pantainya yang membentang sepanjang 2 KM dengan lebar 200 meter merupakan tempat yang paling cocok untuk menikmati deburan ombak pesisir pantai selatan yang terkenal akan keindahannya. Selain itu, juga banyak terdapat berbagai macam jenis karang, ikan hias, serta kerumunan biota laut yang bisa kita nikmati keindahannya ketika air laut sedang surut.

Dari lepas pantai juga bisa kita lihat ada 3 buah pulau karang yang berjajar ke arah Barat. Pulau-pulau tersebut bernama, pulau “Anoman”, pulau “Ismoyo” dan pulau “Wisanggeni”. Di atas pulau Ismoyo terdapat sebuah Pura yang bernama “Amerta Jati”, kita bisa mengaksesnya dengan menggunakan jembatan yang menghubungkan antara pulau Ismoyo dengan bibir pantai (kurang lebih 100 meter).

Cerita menarik dibalik keindahan pantai.

infomalangraya.net
infomalangraya.net

Ada kisah yang menarik dibalik Pura Anumerta Jati ini. Yaitu dibangunnya Pura ini dibuat semirip mungkin dengan Pura yang ada di Tanah Lot Bali dan diprakarsai oleh Bupati Malang Edi Slamet pada tahun 1985. Selain sebagai tempat wisata, Pura ini juga masih sering digunakan sebagai tempat upacara keagamaan umat Hindu. Oleh karena itu, pantai ini selalu ramai oleh para pengunjung ketika hari-hari besar umat Hindu, baik untuk berwisata maupun melakukan ritual tertentu dan tak jarang juga ada wisatawan mancanegara yang datang ke sini.

Selain beberapa hal di atas, masih banyak lagi hal menarik yang pastinya hanya bisa kamu nikmati ketika berada di pantai Balekambang ini. Salah satunya adalah menikmati sunset pantai Balekambang yang menyuguhkan siluet Pura dengan background langit senja yang berwarna kuning keemasan. Penasaran! Datang aja langsung, hehe.

Fasilitas yang ada di Pantai Balekambang.

Fasilitas yang ada disini juga sudah lengkap kok. Mulai dari Mushola, warung dan kios yang menyediakan makanan dan minuman hingga suvenir serta permainan anak-anak, dengan harga yang relatif murah. Di sini juga terdapat wahana fliying fox, tetapi hanya tersedia di akhir pekan saja (Sabtu dan Minggu). Untuk tiket masuknya, setiap pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp15.000/orang. Jika kamu ingin menginap, di sini juga terdapat banyak penginapan/hotel dengan kisaran harga Rp100.000-500.000/malam, tergantung dari layanan serta fasilitas yang kita harapkan.

Untuk rute perjalananya sendiri, kita bisa lewat jalur Malang-Kepanjen. Yaitu, lewat Gondanglegi, Pagelaran, Srigonco, Balekambang. Atau bisa juga lewat jalur Malang-Bululawang, yaitu lewat Gadang dan Kendalpayak baru kemudian lewat Gondanglegi, untuk seterusnya sama halnya dengan rute (Malang-Kepanjen).

Demikian sedikit informasi tentang pantai Balekambang Malang, Jawa Timur. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Pastikan informasi yang kamu peroleh seputar kota Malang, berasal dari malang.kotamini.com.